Rupiah Fluktuatif, Dolar AS Dibanderol Mahal di Perbankan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah fluktuasi rupiah yang kian tak terprediksi, perbankan terpantau mematok kurs jual dolar Amerika Serikat (AS) di posisi harga tinggi.

Hal ini dilakukan utamanya sebagai bentuk manajemen risiko di tengah ketidakpastian pasar.

Rupiah di pasar spot ditutup di harga Rp 17.382 per dolar AS, melemah 0,28% dibanding perdagangan sebelumnya. Dalam sepekan, posisi rupiah saat ini mencerminkan pelemahan 0,26%. 


Meski rupiah masih berhasil menjaga posisinya di rentang Rp 17.300, sejumlah bank terpantau mematok kurs jual dolar AS di kisaran yang lebih tinggi. Rentang selisih (spread) dengan harga jualnya pun tak sedikit. 

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.364 per Dolar AS Kamis (7/5) Siang, Dipicu Faktor Geopolitik

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) misalnya, mematok kurs jual dolar AS di TT counter sebesar Rp 17.470, dengan kurs beli sebesar Rp 17.270. Artinya, ada spread sekitar Rp 200. Namun di mekanisme e-rate, kurs jual dan beli masih sebesar Rp 17.358. 

Kemudian PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) kompak mematok kurs jual dolar AS di TT counter dan Bank Notes sebesar Rp 17.450, sementara kurs belinya di Rp 17.150.

Dus, spread antara kurs jual dan beli mencapai Rp 300. 

Tak jauh berbeda, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan kurs jual dolar AS di TT counter sebesar Rp 17.530 dan kurs belinya senilai Rp 17.230, ada spread Rp 300.

Di Bank Notes, kurs jual dolar AS ada di level Rp 17.490 dan kurs beli di Rp 17.190, spread-nya juga kisaran Rp 300.

EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn menjelaskan, pada dasarnya penetapan spread antara harga jual dan beli mencerminkan sejumlah pertimbangan perseroan.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.424 per Dolar AS Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,6%, Ini Pemicunya

Di antaranya yaitu manajemen risiko nilai tukar hingga penyesuaian terhadap dinamika pasar. 

“Kami melakukan penyesuaian terhadap dinamika pasar, baik valuta asing (valas) global maupun domestik,” jelas Hera kepada Kontan, Jumat (8/5/2026). 

Secara umum ia bilang BCA senantiasa mengacu pada prinsip kehati-hatian dan ketentuan yang berlaku dalam menentukan kurs valas. Termasuk, ketentuan Bank Indonesia (BI) terkait Posisi Devisa Neto (PDN).

Pada prinsipnya, BCA memandang pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal yang bersifat dinamis. Dalam kondisi ini, Hera memastikan pihaknya terus memantau perkembangan tersebut secara cermat.

Secara kinerja, Hera bilang transaksi valas memang turut berkontribusi terhadap pendapatan komisi (fee income) BCA.

Namun, kontribusi terbesar fee income masih berasal dari berbagai aktivitas perbankan transaksi, yang mana secara keseluruhan total fee income bank tumbuh 14,2% yoy per Maret 2026.

Sementara itu, KB Bank mematok kurs jual dolar AS di rentang Rp 17.380–Rp 17.420 dengan spread yang sangat tipis, yakni kisaran Rp 10–Rp 30. Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie menjelaskan, bank menetapkan spread sejalan dengan praktik umum di industri. 

Pun ia bilang penetapan spread dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain kondisi likuiditas valas, volatilitas pasar, serta kebutuhan transaksi nasabah.

Dengan begitu, penyesuaian spread lebih ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara daya saing harga dan pengelolaan risiko pasar secara sehat di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Baca Juga: Kurs Rupiah Menguat ke Rp 17.333 Per Dolar AS Hari Ini (7/5) Saat Harga Minyak Turun

Dari sisi kinerja, Kunardy menyebut fee income dari transaksi valas hingga saat ini masih terjaga stabil sebagai bagian dari pendapatan non-bunga bank.

Fokus bank lebih diarahkan pada penyediaan layanan transaksi valas yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, baik korporasi maupun ritel. 

“Oleh karena itu, pertumbuhan fee income diarahkan pada penguatan kualitas layanan serta aktivitas transaksi yang didukung oleh kebutuhan riil nasabah,” katanya. 

Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, fluktuasi rupiah yang kian cepat dan sulit diprediksi memang mau tak mau mendorong perbankan mematok spread yang cukup lebar antara kurs jual dan beli dolar.

“Spread semakin lebar dan dapat memitigasi risiko dari transaksi valas,” ujar Trioksa. 

Di satu sisi, Trioksa melihat perbankan masih butuh dolar untuk menjaga likuiditas valas dalam negeri. Dampaknya, suku bunga dolar domestik berpotensi dipatok lebih tinggi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News