KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan faktor domestik. Ketidakpastian geopolitik hingga ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,04% secara harian ke level Rp 16.888 per dolar AS. Namun secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,30% dibanding posisi Rp 16.836 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,23% secara harian ke Rp 16.885 per dolar AS. Meski demikian, dalam sepekan rupiah tetap melemah 0,24% dari posisi Rp 16.844 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.
Sentimen Geopolitik AS–Iran Tekan Pasar
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah sepekan terakhir dipengaruhi berbagai faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik antara AS dan Iran. Pelaku pasar sempat bersikap skeptis terhadap potensi kemajuan pembicaraan nuklir antara kedua negara.
Baca Juga: Rupiah Jisdor Menguat 0,24% ke Rp 16.885 per Dolar AS pada Jumat (20/2/2026) Isu ini menjadi perhatian pasar energi global karena Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan berada di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap hari. Risiko militer juga masih membayangi setelah laporan mengenai latihan militer yang dilakukan Garda Revolusi Iran di kawasan tersebut, sementara pasukan AS tetap ditempatkan dalam jumlah besar di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan meningkatkan volatilitas aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah. Di sisi lain, negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi AS di Jenewa turut menjadi perhatian investor. Presiden AS, Donald Trump, juga mendesak percepatan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun. “Investor berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari yang dapat memberikan wawasan baru tentang waktu dan skala potensi pelonggaran moneter,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
IMF Soroti Defisit APBN, Usulkan Kenaikan PPh 21
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana Moneter Internasional (IMF) mengusulkan agar Indonesia menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh 21 guna menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat Tipis 0,04% ke Rp 16.888 per Dolar AS pada Jumat (20/2) Isu fiskal ini menambah kehati-hatian pelaku pasar, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif stabil. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada sepekan ke depan bergerak dalam rentang Rp 16.790 hingga Rp 16.980 per dolar AS.
Tekanan Dolar AS dan Proyeksi Sepekan
Senada, Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp 16.800–Rp 16.950 per dolar AS. “Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama,” ucap Taufan kepada Kontan, Jumat (20/2/2026). Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah tidak akan terlalu dalam karena pelaku pasar domestik masih mencermati langkah stabilisasi otoritas moneter serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga.
Baca Juga: Rupiah Lesu ke Rp 16.913 Jumat (20/2) Pagi, Catat Pelemahan 4 Hari Beruntun Dari sisi domestik, sentimen utama berasal dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas inflasi, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham. Permintaan valuta asing (valas) dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga memberi tekanan jangka pendek. Namun, surplus neraca perdagangan serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor penahan volatilitas rupiah di tengah dinamika global. Dalam sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi AS, termasuk inflasi dan indikator ketenagakerjaan, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar AS. Selain itu, dinamika imbal hasil obligasi AS, sentimen risiko global, serta pergerakan harga komoditas juga akan menjadi katalis penting bagi rupiah.
“Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut berpotensi menjaga rupiah dalam rentang fluktuasi yang moderat, dengan bias pergerakan masih sensitif terhadap arah dolar AS,” terang Taufan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News