Rupiah Gagal Mengikuti Penguatan Mata Uang Asia, Sentimen Domestik Jadi Biang Kerok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan mayoritas mata uang Asia. Pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen domestik, terutama kondisi pasar ekuitas yang belum kondusif serta perkembangan kasus penyadapan.

Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot pada perdagangan Rabu (4/11/2026) ditutup melemah 0,04% ke level Rp 18.168 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah justru menguat tipis 0,04% ke level Rp 18.140 per dolar AS. Posisi tersebut menguat Rp 8 dibandingkan kurs JISDOR pada Selasa (3/11/2026) yang berada di Rp 18.148 per dolar AS.


Baca Juga: Kasus Dugaan Penyadapan Bikin Rupiah Tertekan ke Level Rp 18.168 Saat Dolar Melemah

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menyebut, pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan dari dalam negeri. Kondisi pasar saham yang belum kondusif serta mencuatnya kasus dugaan penyadapan menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah di tengah dinamika pasar global.

"Rupiah melemah tertekan oleh sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik dan kasus penyadapan," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Di tengah pelemahan dolar AS, sejumlah mata uang Asia justru mencatatkan penguatan terhadap greenback. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik.

"Indeks dolar AS sendiri terpantau turun cukup besar dan mayoritas mata uang Asia juga menguat cukup besar terhadap USD," jelasnya.

Asal tahu saja, yen Jepang tercatat di level 158,29 per dolar AS, menguat 0,25%. Dolar Singapura berada di 1,27 per dolar AS, menguat 0,29%. Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,33% ke 1.340, ringgit Malaysia menguat 0,27% ke 4,06, dan baht Thailand menguat 0,41% ke 33,64.

Ke depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026.

Tekanan terhadap dolar AS akibat perkembangan pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat berpotensi menjadi sentimen positif bagi rupiah. Namun, lemahnya sentimen domestik diperkirakan masih membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.

Lukman memproyeksikan rupiah pada perdagangan Kamis (5/11/2026) bergerak dalam rentang Rp 18.100-Rp 18.200 per dolar AS. 

Baca Juga: Kinerja Reksadana di Oktober 2026 Tertekan Koreksi Saham, Pasar Uang Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News