Rupiah jatuh ke level terendah Rp 13.463



JAKARTA. Otot rupiah masih loyo berkutat di level terendah sejak 1998. Mengacu data Bloomberg, di pasar spot mata uang Garuda terkoreksi 0,12% ke level Rp 13.463 per dollar AS.

Serupa, mengacu kurs tengah Bank Indonesia melemah 0,03% di level Rp13.453 dibandingkan hari sebelumnya.  

David Sumual, Ekonom Bank BCA, menilai pelemahan rupiah masih mengikuti tren penguatan dollar AS. Apalagi, pasar yang wait and see banyak memburu dollar AS menjelang FOMC Statement oleh the Fed pada Kamis (30/7) nanti.


“Saat ini investor masih wait and see jelang FOMC Statement. Apalagi data-data perekonomian AS minggu lalu, seperti data ketenagakerjaannya memuaskan meskipun data penjualan rumah sedikit mengecewakan,” ujar David.

Selain itu, data Markit Flash Manufacturing PMI Cina yang berada di bawah ekspektasi yaitu 48,2 lebih buruk dibandingkan periode sebelumnya di 49,4 menjadi sentimen negatif bagi rupiah. 

“Data Markit Flash Manufacturing PMI Cina ini terendah sepanjang setahun terakhir, membuat mata uang negara-negara pengekspor komoditas menjadi lemah. Indonesia kan ekspornya hampir 60% komoditas,” sambung David.

David menduga rupiah pada Selasa (28/7) bisa menguat terbatas karena ada rilis data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengenai data investasi Indonesia yang membaik di level 16% dibandingkan periode sebelumnya. Data investasi ini bisa menjadi sentimen positif bagi rupiah, meski David menilai trennya masih kalah dibandingkan ekspektasi hasil FOMC Statement dan rilis data manufaktur Cina yang tidak memuaskan.

Oleh karena itu, prediksi David rupiah pada Selasa (28/7) akan bergerak stabil cenderung positif di kisaran Rp13.400.

Penurunan itu membuat peringkat emiten konsumer tersebut terperosok dari peringkat dua ke posisi tiga sebagai emiten berkapitalisasi tertinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News