Rupiah Jebol Rp 18.000, Ancaman Outflow US$13 Miliar dari MSCI Membayangi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah di pasar spot mengalami pelemahan cukup signifikan hingga kembali jebol ke atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari perdagangan menuju akhir pekan ini.

Kondisi ini menyusul sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Nilai tukar rupiah melemah tajam pada perdagangan terakhir pekan ini. Jumat (16/10), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 89 atau 0,50% menjadi Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS).


Baca Juga: IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar

Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah total 0,71% dari posisi Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10) pekan lalu.

Kurs rupiah Jisdor bahkan melemah Rp 104 atau 0,58% dalam sehari menjadi Rp 18.052 per dolar AS pada hari ini. Pelemahan kurs rupiah Jisdor mencapai 0,94% dari posisi Rp 17.884 per dolar AS pada pekan lalu.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan usulan MSCI tersebut didasari kekhawatiran yang berlanjut terkait tata kelola pasar modal Indonesia dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. 

“Meskipun berbagai reformasi telah dilakukan, MSCI menyoroti lemahnya penegakan aturan dan disfungsi pasar,” ungkap Ibrahim, Jumat (16/10/2026).

Ibrahim mencermati, keputusan akhir terkait usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dijadwalkan ditetapkan pada 30 Juni 2027. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen melanjutkan perbaikan pasar modal, sekaligus menegaskan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tarik bagi investor.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari potensi arus keluar modal asing apabila perubahan klasifikasi tersebut terealisasi. Ibrahim menyoroti perkiraan Goldman Sachs yang menyebut potensi arus keluar modal dapat mencapai US$ 13 miliar.

Potensi arus keluar tersebut muncul karena manajer investasi aktif kemungkinan mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia untuk menghindari ketidaksesuaian dengan tolok ukur investasi atau benchmark yang digunakan. Jika terjadi dalam skala besar, aksi jual tersebut berisiko menekan nilai tukar rupiah sekaligus mengurangi likuiditas pasar.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam. 

Baca Juga: Laba Eastparc Hotel (EAST) Naik 8,63% Jadi Rp 22,79 Miliar hingga September 2026

Langkah yang ditempuh antara lain melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Bank sentral juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan sentimen MSCI, juga menantikan pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. 

“Pernyataan tersebut akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS menjelang pertemuan The Fed pada akhir bulan ini,” imbuh Ibrahim.

Dengan sejumlah sentimen itu, Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan sepekan ke depan akan bergerak di rentang Rp 17.850-Rp 18.200 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News