Rupiah Kembali ke Rp 17.500-an, Cek Prospek dan Pandangan Ekonom



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menguat hingga menembus kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat terus melemah sejak pertengahan Mei 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (9/9/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,69% atau naik 121,00 poin ke level Rp 17.511 per dolar AS.

Kinerja positif mata uang domestik dalam sebulan terakhir tidak hanya terlihat di hadapan greenback, tetapi juga tercatat membaik terhadap mayoritas valuta asing mitra dagang utama Indonesia di pasar spot.


Mengutip data Bloomberg per 9 September 2026, return rupiah dalam satu bulan terakhir mengalami apresiasi terhadap dolar AS sebesar 2,08%, yuan Tiongkok (CNY) 1,54%, dolar Singapura (SGD) 0,97%, ringgit Malaysia (MYR) 1,59%, serta rupee India (INR) 1,99%, meskipun masih mencatatkan depresiasi tipis 0,78% terhadap yen Jepang (JPY).

Baca Juga: Ekonom: Penguatan Rupiah Saat Ini Repricing Teknikal, Bukan Perbaikan Fundamental

Penguatan mata uang Garuda ini dinilai sebagai kombinasi antara melandainya tekanan eksternal dan terjaganya daya tahan ekonomi dalam negeri.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa tren apresiasi rupiah saat ini ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, yang berpadu dengan ketahanan cadangan devisa, langkah stabilisasi Bank Indonesia, serta masuknya arus modal asing.

Hal senada disampaikan Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi. Ia menilai pelemahan dolar AS di bawah level 100 memberi ruang bagi mata uang kawasan, sementara kestabilan instrumen dalam negeri serta cadangan devisa sekitar US$ 146,5 miliar bertindak sebagai bantalan peredam gejolak.

"Pembacaan yang lebih disiplin adalah: tekanan dolar global melemah, sementara kredibilitas kebijakan, cadangan devisa, dan stabilitas pasar domestik mencegah rupiah kehilangan momentum," ungkap Syafruddin kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Kembalinya rupiah ke level Rp 17.500-an setelah kurun empat bulan memberikan sinyal positif lantaran berada di area asumsi Makro RAPBN 2027.

Menurut Rizal, level kurs saat ini membuat asumsi anggaran pemerintah menjadi lebih realistis sekaligus memberikan kestabilan bagi pasokan biaya operasional dunia usaha.

Baca Juga: Menakar Prospek Rupiah untuk Perdagangan Kamis (10/9), Cek Sentimen yang Menopangnya

"Jika rupiah mampu bertahan di sekitar level tersebut, tekanan terhadap subsidi energi, impor, pembayaran utang valas, dan imported inflation akan lebih terkendali," terang Rizal.

Kendati mengalami apresiasi signifikan, para ekonom menilai kondisi saat ini belum serta-merta mengonfirmasi fase bullish secara struktural.

Penguatan rupiah dipandang masih menghadapi sejumlah risiko dinamis, mulai dari melambungnya harga minyak mentah Brent yang menembus US$ 100 per barel, ancaman current account deficit (CAD), hingga arah imbal hasil US Treasury 10-years.

Hingga akhir tahun 2026, Rizal memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.300–Rp 17.700 per dolar AS. Menurutnya, skenario penguatan terbuka jika dolar melemah, The Fed lebih dovish, dan arus modal asing membaik, sementara risiko pelemahan tetap berasal dari harga minyak tinggi, penguatan dolar, tekanan fiskal, dan meningkatnya premi risiko domestik.

Sementara itu, Syafruddin memproyeksikan pergerakan rupiah berada pada rentang Rp 17.400–Rp 17.900 per dolar AS, dengan titik pusat kisaran Rp 17.550–Rp 17.750 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.511 Per Dolar AS Hari Ini (9/9), Paling Kuat di Asia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News