KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kebutuhan valas korporasi domestik menjadi faktor yang menahan kinerja mata uang Garuda. Melansir data Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.744 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (27/8/2026), melemah 0,11% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.725 per dolar AS. Sejalan dengan itu, rupiah pada kurs JISDOR juga ditutup melemah 0,25% secara harian menjadi Rp 17.762 per dolar AS.
Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan terbatas indeks dolar AS (DXY). Saat ini DXY ada di level 99,2 atau naik 0,3% sepekan.
Baca Juga: Investor SR025 Perlu Waspadai Risiko Inflasi dan Kenaikan Yield "Adanya penguatan terbatas pada indeks dolar AS (DXY) akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi energi dan arah suku bunga The Fed," ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (27/8/2026) Menurut dia, data inflasi AS yang menjadi salah satu acuan utama Federal Reserve atau The Fed masih menunjukkan kenaikan inflasi. Kondisi tersebut mendorong dolar AS kembali menguat (rebound). Penguatan dolar AS kemudian memicu aksi ambil untung (profit taking) sesaat pada mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah. Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi domestik. Wahyu menyebut permintaan korporasi dalam negeri terhadap valuta asing (valas) meningkat untuk memenuhi kebutuhan pembayaran kewajiban pada akhir bulan. "Permintaan korporasi domestik terhadap valuta asing untuk kebutuhan pembayaran kewajiban akhir bulan serta pembayaran impor energi menjelang penutupan bulan berjalan turut memberikan tekanan sisi beli (buy side pressure) terhadap USD/IDR," jelasnya.
Baca Juga: Dolar Melemah dan Intervensi US Treasury Memicu Reli Emas, Intip Prospeknya Untuk perdagangan Jumat (28/8/2026), Wahyu memperkirakan rupiah bergerak konsolidatif dengan kecenderungan sedikit tertekan. Menurutnya, ruang pelemahan rupiah mulai terbatas sehingga pergerakan diperkirakan berada dalam pola sideways to weak.
Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi global lanjutan serta dinamika imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau US Treasury. "Di sisi domestik, intervensi stabilisasi dari Bank Indonesia melalui instrumen pasar valas dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap aktif menjaga agar volatilitas rupiah tidak keluar dari koridor fundamentalnya," kata Wahyu. Dengan begitu, Wahyu memperkirakan rupiah pada perdagangan Jumat (28/8) bergerak dalam kisaran Rp 17.650-Rp 17.850 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News