Rupiah Kembali Melemah Senin (6/4), Ditutup di Level Rp 17.035 per Dolar AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp 17.000 pada perdagangan awal pekan Senin (6/4/2026).

Mengutip data Bloomberg, rupiah pasar spot ditutup di Rp 17.035 per dolar AS, melemah 0,32% dari posisi akhir pekan lalu Rp 16.980.

Sementara pada Jakarta Interbank Spot Dollar Index (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah di Rp 17.037 per dolar AS, turun 0,13% dari posisi Rp 17.015.


Baca Juga: Transaksi Kripto Turun 16,9% pada Februari, OJK Fokus Benahi Struktur Industri

Tekanan terhadap pasar domestik muncul di tengah kekhawatiran investor terkait defisit fiskal, independensi bank sentral, serta pelemahan mata uang.

Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah juga memperburuk situasi, mengingat Indonesia bergantung pada impor energi.

Melansir Reuters, analis MUFG menilai meski harga komoditas dapat meningkatkan pendapatan negara, keterbatasan ruang fiskal berisiko memaksa pemerintah melakukan penyesuaian belanja atau harga bahan bakar, yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah stabilisasi nilai tukar, namun risiko eksternal seperti lonjakan imbal hasil obligasi AS atau sentimen risk-off global masih berpotensi melemahkan rupiah lebih lanjut.

Baca Juga: Beban Meningkat, Rugi Wijaya Karya (WIKA) Naik 328,30% ke Rp 9,7 Triliun di 2025

Secara regional, perhatian investor kini tertuju pada data inflasi yang akan dirilis pekan ini. Filipina dijadwalkan merilis data inflasi Maret pada Selasa, disusul Taiwan pada Rabu, dan keputusan suku bunga Korea Selatan pada Jumat.

Di pasar global, dolar AS stabil, sementara yen mendekati level krusial 160 per dolar. Investor menyoroti eskalasi perang di Iran, khususnya tenggat waktu terbaru Presiden Donald Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Selasa malam waktu AS.

Dalam unggahan di media sosial pada Minggu Paskah, Trump menegaskan akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika jalur strategis tersebut tidak dibuka tepat waktu.

Baca Juga: OJK Sebut 15 Perusahaan Antre di Pipeline IPO, Total Mencapai Rp 1,38 Triliun

Pasar Asia dan Eropa sebagian besar libur pada Senin, sehingga likuiditas tipis. Fokus investor kini tertuju pada kemungkinan gencatan senjata, setelah laporan media menyebut negosiator melakukan upaya diplomasi terakhir.

“Batas waktu Trump sendiri cenderung memberi sentimen negatif, bukan karena investor yakin perang akan terjadi besok, tapi karena setiap ultimatum baru membuat gangguan terlihat lebih lama, lebih sulit, dan berdampak negatif secara makro,” ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi Saxo di Singapura.

Di pasar mata uang, euro diperdagangkan di US$1,1523, sementara pound sterling terakhir di US$1,3211. Dollar Index sedikit turun ke 100,12.

Dolar Australia menguat 0,3% ke US$0,69045, masih dekat level terendah dua bulan yang tercapai pekan lalu.

Baca Juga: Rugi PT PP (PTPP) Bengkak ke Rp 6,07 Triliun Sepanjang 2025, Ini Pemicunya

Laporan Axios menyebut AS, Iran, dan mediator regional tengah membahas gencatan senjata potensial 45 hari yang bisa menjadi awal untuk mengakhiri konflik secara permanen.

Sejak perang AS-Israel terhadap Iran pecah akhir Februari, Teheran menutup akses Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas dunia, yang memicu gejolak pasar energi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News