KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kekhawatiran investor setelah munculnya peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang membayangi rupiah, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjelang keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,12% ke level Rp 18.156 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 18.139 per dolar AS, melemah 0,13% dibandingkan posisi Rp 18.116 per dolar AS pada Senin (26/10/2026). Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, dolar AS menguat menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5% juga membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor.
Rupiah Kian Terpuruk, Arus Keluar Dana Asing dan Peringatan MSCI Jadi Pemicu
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kekhawatiran investor setelah munculnya peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang membayangi rupiah, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjelang keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,12% ke level Rp 18.156 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 18.139 per dolar AS, melemah 0,13% dibandingkan posisi Rp 18.116 per dolar AS pada Senin (26/10/2026). Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, dolar AS menguat menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5% juga membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor.
TAG: