Rupiah Kian Terpuruk ke Rp 17.597 per Dolar AS pada Jumat (15/5), Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tekanan sepanjang pekan ini. 

Kombinasi sentimen global dan domestik membuat mata uang Garuda bergerak di kisaran level terlemah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.414 per dolar AS pada Senin (11/5). Tekanan kemudian berlanjut hingga rupiah menyentuh Rp 17.528 per dolar AS pada Selasa (12/5).


Pada perdagangan Rabu (13/5), rupiah sempat menguat ke Rp 17.476 per dolar AS. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama. 

Baca Juga: Bursa Asia Berfluktuasi, IHSG Terkoreksi 3,53% dalam Sepekan

Rupiah kembali melemah ke level Rp 17.529 per dolar AS pada Kamis (14/5) dan ditutup di Rp 17.597 per dolar AS pada Jumat (15/5).

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah pada Senin (11/5) berada di level Rp 17.415 per dolar AS. 

Sehari kemudian, rupiah sempat mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp 17.514 per dolar AS sebelum menguat tipis menjadi Rp 17.496 per dolar AS pada Rabu (13/5).

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Menurut Josua, tekanan eksternal terutama berasal dari kenaikan inflasi AS, tingginya harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih bertahan tinggi.

"Dari sisi global, tekanan terbesar datang dari kenaikan inflasi Amerika Serikat, harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah, serta imbal hasil obligasi Amerika yang bertahan tinggi," ujar Josua kepada Kontan, Rabu (13/5).

Ia menambahkan, inflasi konsumen AS tercatat naik menjadi 3,8% secara tahunan. Pasar juga menanti data harga produsen AS yang diperkirakan meningkat akibat kenaikan harga energi.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap perkasa dan menekan mata uang Asia, terutama negara-negara yang sensitif terhadap harga minyak seperti Indonesia, India, dan Filipina.

Menurut Josua, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi. 

Kenaikan harga minyak dipandang pasar dapat memperbesar risiko inflasi, subsidi energi, defisit fiskal, hingga kebutuhan dolar AS.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen peninjauan indeks MSCI, arus modal asing, serta kekhawatiran terhadap pasar surat berharga negara (SBN).

MSCI mengumumkan tidak ada saham baru yang masuk ke indeks standar Indonesia, sementara enam saham keluar. Untuk indeks saham berkapitalisasi kecil, hanya satu saham yang masuk dan 13 saham keluar.

Sentimen tersebut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena investor global yang menggunakan acuan MSCI cenderung melakukan penyesuaian portofolio.

Dampaknya turut menjalar ke pasar valas ketika investor asing menjual saham dan mengonversi dana hasil penjualan ke dolar AS.

"MSCI bukan penyebab tunggal pelemahan rupiah, tetapi menjadi pemicu domestik yang memperburuk tekanan ketika pasar global sedang tidak ramah," kata Josua.

Selain itu, pasar juga mencermati kondisi pasar obligasi domestik. Lelang SBN terbaru mencatat permintaan terlemah dalam lebih dari satu tahun dengan total penawaran mencapai Rp 51,40 triliun dan rasio penawaran terhadap target sebesar 1,43 kali.

Menurut Josua, lemahnya minat investor terhadap SBN mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia, terutama di tengah pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap defisit fiskal akibat lonjakan harga minyak.

"Jika pasar obligasi melemah, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi dan tekanan tersebut dapat memperbesar persepsi risiko Indonesia," ujar Josua.

Meski demikian, Josua menilai rupiah masih memiliki ruang stabilisasi. Hal itu terlihat dari pergerakan rupiah pada 13 Mei yang sempat menguat setelah muncul sentimen positif terkait rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping serta wacana aktivasi Bond Stabilization Fund untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan rupiah masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen harian, tetapi belum kehilangan seluruh faktor penopangnya.

Baca Juga: Rupiah Kembali Cetak Rekor Terlemah, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News