KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai meningkatkan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit dalam valuta asing (valas). Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, pelemahan rupiah berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit valas, terutama pada sektor yang berorientasi domestik. "Meskipun kredit perbankan secara umum masih tumbuh sekitar 7%–8% secara tahunan, bank cenderung lebih selektif terhadap debitur yang tidak memiliki pendapatan valas karena risiko nilai tukar semakin tinggi," ujar Rizal kepada Kontan.co.id, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Penyaluran Kredit Valas BCA Tumbuh 2,9% Jadi Rp 48,9 Triliun per Maret 2026 Menurutnya, depresiasi rupiah juga meningkatkan risiko kredit bermasalah atau
non-performing loan (NPL) kredit valas, khususnya pada debitur yang mengalami
currency mismatch antara pendapatan rupiah dan kewajiban dolar AS. Meski demikian, Rizal menilai risiko sistemik perbankan masih relatif terkendali karena kondisi permodalan dan likuiditas industri perbankan masih cukup kuat. Ia menilai sektor yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi namun tidak memiliki penerimaan valas memadai, seperti manufaktur domestik, farmasi, perdagangan impor, hingga sebagian sektor konstruksi dan properti. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor seperti batubara,
crude palm oil (CPO), minyak dan gas, serta mineral dinilai relatif lebih resilien karena memiliki pendapatan dalam dolar AS. Rizal memproyeksikan pertumbuhan kredit valas tahun ini berpotensi melambat seiring penguatan dolar AS, tingginya ketidakpastian global, dan perlambatan ekonomi domestik. Karena itu, perbankan diperkirakan akan lebih fokus menjaga kualitas aset ketimbang mengejar ekspansi agresif kredit valas, dengan memperbesar pembiayaan kepada sektor berorientasi ekspor dan debitur yang memiliki
natural hedging. Baca Juga: BNI Klaim Risiko Kredit Valas Terkendali di Tengah Tekanan Pelemahan Rupiah Untuk menjaga kualitas aset, perbankan dinilai perlu memperketat asesmen debitur, memperluas penggunaan lindung nilai (
hedging), serta meningkatkan pencadangan risiko kredit. Dari sisi perbankan, Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie mengatakan pelemahan rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap ketahanan bank, terutama melalui peningkatan risiko kredit, potensi kenaikan NPL, kecukupan modal (CAR), hingga eksposur kredit valas. Karena itu, KB Bank kini menerapkan prinsip selektivitas yang lebih ketat dalam penyaluran kredit valas dengan fokus pada debitur yang memiliki profil risiko kuat dan prospek profitabilitas yang jelas. Menurut Kunardy, pelemahan rupiah juga meningkatkan kebutuhan likuiditas valas sekaligus risiko
mismatch likuiditas di sektor perbankan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, KB Bank aktif memanfaatkan pinjaman valas dari bank lain serta mempertimbangkan penerbitan instrumen valas, termasuk obligasi valas. "Dalam tren simpanan valas yang melambat, ruang ekspansi kredit valas menjadi lebih terbatas," ujar Kunardy. Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengatakan BCA terus mencermati dinamika nilai tukar dan perkembangan ekonomi global maupun domestik dalam menyalurkan kredit valas.
Baca Juga: Rupiah Melempem, Permintaan Kredit Valas Perbankan Terbatas Hingga Maret 2026, kredit valas BCA tercatat sebesar Rp 48,9 triliun atau tumbuh 2,9% secara tahunan. Namun, porsi pembiayaan BCA masih didominasi kredit dalam denominasi rupiah. "BCA terus melakukan pemantauan terhadap kualitas kredit guna menjaga kualitas aset tetap terjaga dengan baik," ujar Hera.
Adapun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perseroan masih lebih fokus pada kredit dan dana pihak ketiga (DPK) dalam denominasi rupiah. Menurutnya,
loan to deposit ratio (LDR) valas CIMB Niaga saat ini juga masih berada di bawah 70%. "Kami lebih
prudent terutama dalam
balance sheet valas," ujar Lani. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News