Rupiah loyo, inilah faktor eksternal yang BI cermati



KONTAN.CO.ID -JAKARTA.  Bank Indonesia  memang tak lagi punya waktu berleha-leha. Penguatan dollar Amerika Serikat masih terus menekan mata uang garuda alias rupiah. Upaya  BI menaikkan suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) hingga 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%  nampaknya belum mampu menahan pelemahan rupiah.

Rupiah di pasar spot hari ini (3/7), melemah 0,27% ke Rp 14.429 per dollar AS dari kemarin di angka  Rp 14.390. Pun  di perdagangan antarbank.  Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) memperlihatkan rupiah kembali melemah ke level Rp 14.418 per dollar AS dari sebelumnya masih di 14.331.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, BI terus memantau pergerakan kurs rupiah. Jika dibutuhkan, BI akan melakukan intervensi pasar. “Kami terus lakukan upaya stabilisasi nilai tukar,” ujar Perry dalam pertemuan dengan media di Kantor BI, Jakarta, Selasa (3/7). Tak menyebut angka, Perry menyebut, BI selalu hadir di pasar dengan melakukan intervensi valas. BI juga terus masuk pasar dengan memborong surat utang negara (SUN).  


Catatan BI yang ekslusif didapat KONTAN, hingga saat ini (year to date), pembelian SUN BI di pasar primer maupun sekunder sudah mencapai Rp 59 triliun. Perinciannya: di pasar primer Rp 40 triliun terdiri dari surat perbendaharaan negara (SPN) 1 di bawah setahun serta Rp 19 triliun yang diambil dari pasar sekunder.

Pelemahan rupiah, kata Perry, jika diukur secara relatif maka masih terkendali alias manage-able. Efek normalisasi kebijakan global membuat banyak mata uang di beberapa negara bergolak. Artinya, rupiah tak melemah sendiri. 

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, jika dihitung sejak awal tahun hingga 29 Juni, pelemahan rupiah dibanding dollar AS mencapai 5,6%.  Negara lain seperti India melemah 7,31%, Philipina 6,83%, Turki 20,93%. “Mayoritas pelemahan nilai tukar terjadi di negara-negara dengan current account deficit,” tandas Mirza.

Bahkan, Thailand yang memiliki current account positif pun belakangan juga ikut terpapar dengan pelemahan terhadap dollar 1,72%.   

Upaya bank sentral  Indonesia menjaga rupiah masih akan panjang. Pasalnya, AS masih akan menaikkan bunga acuannya dua kali lagi di tahun ini. Tahun depan, ada kemungkinan AS akan menaikkan suku bunganya  tiga kali lagi dan di 2020 satu kali lagi.

Tekanan masih akan berlanjut lantaran Bank Sentral Eropa atau (Europian Central Bank) juga perlahan terus mengurangi stimulusnya dengan menurunkan pembelian aset-aset pada semester II tahun ini.  Ada kemungkinan,  normalisasi kebijakan bank sentral Eropa akan menaikkan suku bunga. Jika ini terjadi likuiditas di emerging market, termasuk Indonesia akan mengalami tekanan di tahun depan. “Potensi capital outflow akan terjadi lagi,” ujar Mirza.  

Kondisi ini masih diwarnai dengan ketegangan hubungan dagang AS dengan Tiongkok. Baru-baru ini PBOC juga melonggarkan rasio giro wajib minimum bank-bank di sana.  Menurut Mirza pelonggaran GWM ini menimbulkan banyak persepsi di pasar. Sebagaian ekonom menduga langkah PBOC untuk mencegah pelambatan ekonomi di China.  Di sisi lain, banyak ekonom yang menduga tujuan pelonggaran GWM demi melemahkan mata uang China: yuan.

Efek dari aneka pengaruh eksternal itu, kata Mirza akan berpengaruh ke likuiditas di pasar.  Investor yang memiliki dana-dana akan mengalihkan dana ke negara-negara yang menawarkan imbal hasil menarik. Aliran modal ke negara-negara berkembang akan  menurun.

Itulah sebabnya, kebijakan bank sentral Indonesia adalah menjaga stabilitas, baik itu nilai tukar, inflasi, serta imbal hasil surat utang negara.  “BI dengan Menkeu, Menko, Ketua OJK sepakat kebijakan kami adalah menjaga stabilitas. Kami  juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah, “ tandas Perry.   

Stabilitas yang terjaga akan membuat  kepercayaan asing  tetap terjaga, termasuk kebijakan di dalamnya adalah menjaga spread US treasury yield dengan SBN.  Catatan Asianbonds online, Hingga 2 Juli, US treasury yield AS  ada di 2,871%, adapun yield surat utang negara 10 tahun mencapai 7,789%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Titis Nurdiana