KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 April 2026, dinilai paling ideal sebagai langkah peredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kendati demikian, rupiah malah bergerak semakin liar. Rupiah pada Kamis (23/4) pukul 09.35 WIB, bahkan sudah berada di level Rp 17.310 per dolar Amerika Serikat (AS). Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist, HSBC Global Investment Research, Pranjul Bhandari mengatakan, kebijakan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang kontrafaktual.
“Jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga kemarin, maka nilai tukar kemungkinan akan lebih lemah hari ini. Jadi dari perspektif tersebut, penting bagi BI untuk setidaknya mempertahankan suku bunga tetap,” ujar Pranjul dalam HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Sentimen Geopolitik, Rupiah Anjlok ke Rp 17.305 per Dolar AS Siang Ini, Kamis (23/4) Meski demikian, ia menilai stabilitas rupiah ke depan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan suku bunga. Pergerakan mata uang Garuda sangat dipengaruhi oleh kondisi keuangan eksternal Indonesia. Pranjul menjelaskan, salah satu indikator utama adalah defisit transaksi berjalan yang mencerminkan selisih ekspor dan impor. Posisi defisit transaksi berjalan Indonesia pada tahun lalu relatif rendah, yakni sekitar 0,1% dari produk domestik bruto (PDB). Apalagi defisit ini pernah mencapai sekitar 2,5% pada masa lalu. Namun, ia memperkirakan defisit tersebut berpotensi meningkat seiring adanya risiko guncangan energi global. Meski demikian, jika kenaikan hingga sekitar 1% dari PDB, dinilai masih tergolong moderat. Lebih lanjut, Pranjul menekankan bahwa tantangan utama Indonesia adalah menarik arus masuk modal untuk membiayai defisit tersebut.
Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp 17.300 per Dolar AS, Terhimpit Harga Minyak dan Risiko APBN Ia menyebutkan terdapat dua jenis aliran modal, yakni investasi portofolio asing (foreign portfolio investment/FPI) yang bersifat jangka pendek, serta investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) yang berjangka lebih panjang. “Tahun ini akan menjadi menantang, karena dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global yang tinggi, arus FDI cenderung melemah di seluruh dunia,” jelasnya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat persaingan antar negara berkembang untuk menarik investasi semakin ketat, apalago di tengah kue investasi global yang menyusut. Di sisi lain, untuk aliran dana portofolio, masih dibutuhkan kepastian lebih lanjut, termasuk terkait proses indeks global seperti MSCI.
Pranjul menegaskan, pada akhirnya pergerakan rupiah sangat ditentukan oleh dinamika arus modal tersebut, serta perkembangan nilai tukar global, khususnya dolar Amerika Serikat (AS). “Nilai tukar selalu bersifat relatif. Dalam hal ini rupiah terhadap dolar AS. Jika dolar melemah, maka itu juga akan memberikan dukungan bagi rupiah,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Tembus ke Rp 17.300 di Pagi Ini (23/4), Rekor Terburuk Sepanjang Masa Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News