KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah sepanjang Oktober 2026 menguntungkan sejumlah mata uang asing. Dolar Kanada, franc Swiss, dan pound sterling menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi terhadap rupiah. Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah dan korporasi justru mencatatkan koreksi, sementara emas dan bitcoin juga berada dalam tekanan. Berdasarkan data
Bloomberg, dolar Kanada (CAD) menguat 2,96% terhadap rupiah sepanjang Oktober 2026. Franc Swiss (CHF) menyusul dengan kenaikan 2,75%, sedangkan pound sterling Inggris (GBP) menguat 2,48%.
Penguatan juga terjadi pada dolar Australia (AUD) sebesar 2,23%, dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 1,41%, dolar Singapura (SGD) sebesar 1,33%, dan yen Jepang (JPY) sebesar 1,21%.
Baca Juga: Rupiah Ketinggalan Kereta Penguatan Mata Uang di Asia Hanya euro (EUR) yang mencatatkan koreksi tipis 0,05% secara bulanan. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, volatilitas rupiah masih dipengaruhi sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar global dan aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik. "Tekanan rupiah masih berasal dari sentimen
risk-off dan
net sell asing di pasar ekuitas domestik," ujar Lukman. Menurut dia, penguatan dolar Kanada, franc Swiss, dan pound sterling yang melampaui dolar AS tidak semata-mata disebabkan pelemahan rupiah. Ketiga mata uang tersebut juga menguat terhadap dolar AS. Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap mata uang utama dunia. Hingga akhir 2026, nilai tukar dolar AS diproyeksikan berada di kisaran Rp 18.300–Rp 18.500.
Baca Juga: Rupiah Makin Loyo, Risiko Capital Outflow Asing di Pasar Saham RI Sementara pada semester I-2027, dolar AS berpotensi bergerak di sekitar Rp 19.000. Dengan asumsi dolar AS berada di kisaran Rp 18.300–Rp 18.500 pada akhir tahun ini, Lukman memperkirakan dolar Kanada akan bergerak di kisaran Rp 13.100–Rp 13.300. Franc Swiss diproyeksikan berada di rentang Rp 22.500–Rp 22.800, sedangkan pound sterling berpotensi mencapai Rp 24.400–Rp 24.700.
Pasar obligasi ikut tertekan
Tekanan pasar keuangan juga terlihat pada instrumen obligasi. Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Indobex Government Bond Total Return berada di level 420,34 pada Oktober 2026. Indeks obligasi pemerintah tersebut terkoreksi 1,84% secara bulanan (MoM) dan turun 2,54% sejak awal tahun (YtD). Koreksi obligasi korporasi relatif lebih terbatas. Indobex Corporate Bond Total Return tercatat di level 523,2 atau turun 0,21% secara bulanan. Meski demikian, indeks ini masih mampu membukukan return positif sebesar 2,35% sepanjang tahun berjalan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, tekanan pada obligasi pemerintah tidak terlepas dari kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).
Baca Juga: Won Korea Selatan dan Peso Filipina Paling Tertekan, Rupiah Melemah ke Rp 18.185 Sepanjang Oktober, yield SBN tenor 10 tahun meningkat sekitar 55 basis poin hingga 60 basis poin dan mencapai 7,707% pada 28 Oktober 2026. Menurut Yusuf, pelebaran selisih yield SBN terhadap US Treasury menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya berasal dari faktor global. Investor juga meminta premi risiko domestik yang lebih tinggi seiring tekanan terhadap rupiah, arus keluar modal asing, kekhawatiran mengenai status pasar saham Indonesia, serta meningkatnya beban fiskal akibat kompensasi energi. Sementara itu, obligasi korporasi relatif lebih stabil karena umumnya memiliki durasi lebih pendek. Namun, aktivitas penerbitannya mulai melambat. Emiten cenderung menunggu biaya pendanaan yang lebih rendah, sedangkan kebutuhan penerbitan pada kuartal IV-2026 lebih banyak digunakan untuk pembiayaan kembali utang (refinancing). Yusuf memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bertahan di kisaran 7,4%–7,7% hingga akhir 2026. Risiko kenaikan menuju 8% masih terbuka apabila The Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga dan tekanan arus modal berlanjut.
Baca Juga: Rupiah Makin Loyo, Saham Apa yang Perlu Diwaspadai? Sebaliknya, yield berpeluang turun mendekati 7,2% apabila harga minyak mereda dan rupiah kembali stabil. Namun, memasuki awal 2027, tekanan pasokan obligasi dan kebutuhan pembiayaan pemerintah diperkirakan masih menahan yield di level tinggi. Dalam kondisi tersebut, Yusuf menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar obligasi. "Strategi yang paling rasional bagi investor adalah menjaga durasi tetap pendek dan melakukan akumulasi secara bertahap," kata Yusuf. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News