Rupiah masih akan disetir sentimen perang dagang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kurs rupiah kembali keok di hadapan dollar AS pada perdagangan Rabu (28/3). Pergerakan yang sama diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek.

Mengutip Bloomberg, Rabu (28/3), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,16% ke level Rp 13.764 per dollar AS. Sementara, kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah terdepresiasi 0,27% menjadi Rp 13.745 per dollar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, sentimen utama pemicu pelemahan rupiah bersumber dari perang dagang antara China dan AS. "Sumber volatilitasnya memang dari trade war, meski sempat mereda tensinya, tapi pasar masih menunggu sampai ada konfirmasi kesepakatan antara China dan AS," kata Josua, Rabu (27/3).


Saat ini, Bank Indonesia masih melakukan intervensi di pasar. Pada Maret ini, pemerintah juga kembali menerbitkan sukuk global yang dapat menarik mata uang dollar AS ke dalam negeri dan memperkuat posisi cadangan devisa.

Josua menambahkan, kondisi ekonomi Indonesia masih relatif baik meskipun current account defisit cenderung melebar. "Current account defisit saat ini masih manageable di kisaran 2%," katanya.

Josua memprediksi, kondisi ini masih akan berlanjut dalam jangka pendek. "Karena BI masih akan menahan suku bunga acuan, harga rupiah masih akan berada di kisaran Rp 13.700 sampai Rp 13.800," prediksinya.

Harry Su, Managing Director & Head of Equity Capital Market Samuel Internasional mengatakan, rupiah memang terdepresiasi 1,4% year to date (ytd), namun kondisi ini masih lebih bagus daripada mata uang negara lain di regional. "Di pasar regional, India terdepresiasi 1,9% dan Filipina 4,3%," paparnya.

Secara umum, investor masih cukup percaya dengan kondisi pasar Tanah Air. "Terlebih, dalam waktu dekat Moody's akan mengupgrade rating Indonesia, itu ada peluang penguatan rupiah," imbuh Josua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini