Rupiah Masih Dibayangi Harga Minyak dan Sikap Hawkish The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (10/7).

Meski demikian, pergerakan rupiah pada awal pekan depan diperkirakan masih dibayangi sentimen global, terutama ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan harga minyak dunia.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,35% secara harian ke Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7/2026). Namun, dalam sepekan rupiah melemah 0,56% dari posisinya di level Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (3/7/2026). 


Baca Juga: Menakar Durasi Tren Pelemahan Valas Asia dan Indikator Penentu pada Semester II-2026

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,11% secara harian ke Rp 18.069 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,60% dari posisinya di level Rp 17.960 per dolar AS pada Jumat (3/7/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen berasal dari pasar yang merespons positif prospek ekonomi Indonesia yang tetap solid. Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. 

Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027.

"Kendati demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% pada tahun ini masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan mencapai 5,4%," jelas Ibrahim, Jumat (10/7/2026).

Sentimen lainnya, pergerakan rupiah masih dibayangi berbagai faktor eksternal. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi dan berpotensi mendorong Federal Reserve mempertahankan sikap moneter yang ketat lebih lama.

"Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63% pada pertemuan di bulan September," ujarnya

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kenaikan penjualan mobil nasional pada semester I-2026 memang mencerminkan permintaan yang mulai membaik. 

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil baru sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 436.564 unit atau tumbuh 15,9% secara tahunan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan penjualan kendaraan belum cukup menjadi bukti bahwa daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya. 

Menurutnya, pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara bertahap di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.

Untuk perdagangan Senin (13/7), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.060 hingga Rp 18.110 per dolar AS. 

Baca Juga: Per Gram Rp 2.655.000, Cek Daftar Terbaru Harga Emas Antam Hari Ini, Minggu (12/7)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News