Rupiah Masih Dibayangi Sentimen MSCI, Ini Proyeksi untuk Senin (19/10)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah ditutup melemah tajam hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan.

Pelemahan rupiah tersebut menyusul menyusul kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sekedar mengingatkan, pada Jumat (16/10/2026), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 89 atau 0,50% menjadi Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,71% dari posisi Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026).


Kurs rupiah Jisdor bahkan melemah Rp 104 atau 0,58% dalam sehari menjadi Rp 18.052 per dolar AS pada hari ini. Pelemahan kurs rupiah Jisdor mencapai 0,94% dari posisi Rp 17.884 per dolar AS pada pekan lalu.

Baca Juga: Perkumpulan Analis Dukung Penuh Agenda Reformasi OJK-SRO, Ini Catatan Pentingnya

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Jumat murni dipengaruhi sentimen negatif domestik.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru terpantau melemah seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global. Saat ini indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,8 atau melemah 0,7% secara harian.

“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan meskipun mungkin tidak akan melemah setajam Jumat,” jelas Lukman kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).

Menurut Lukman, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjatuhkan sanksi dengan akumulasi Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait transaksi saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dapat membantu memulihkan kepercayaan investor.

Pemeriksaan awal juga menemukan indikasi potensi pelanggaran pada 31 dari 61 saham High Shareholding Concentration (HSC).

Meski demikian, dampak langkah tersebut terhadap pergerakan rupiah diperkirakan tidak akan langsung terasa. Investor masih akan mencermati konsistensi penegakan aturan dan perbaikan transparansi pasar, sesuai dengan kekhawatiran yang disoroti MSCI.

Di sisi lain, Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi bilang, di tengah tekanan tersebut BI terus melakukan intervensi untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam. 

Langkah yang ditempuh antara lain melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Baca Juga: Ini Hasil Laporan Pertemuan OJK dengan Pelaku Pasar Soal MSCI

Selain itu, BI menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Bank sentral juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Untuk perdagangan di awal pekan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan sentimen MSCI, juga menantikan pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok.

Lukman bilang, tidak ada data ekonomi penting dari luar negeri yang menjadi perhatian utama pada Senin (19/10/2026).  Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) diharapkan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah.

Lukman memperkirakan rupiah pada Senin (19/10/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.950–Rp 18.150 per dolar AS. Sementara Ibrahim memproyeksi, rupiah di rentang Rp 18.020-Rp 18.070 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News