KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal pada pekan mendatang, meskipun dari sisi domestik mulai muncul dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Indonesia (BI). Dinamika global, terutama arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah mata uang Garuda.
Rupiah Ditutup Melemah Akhir Pekan
Pada penutupan perdagangan akhir pekan, rupiah di pasar spot kembali melemah. Tekanan ini menutup pergerakan harian yang cenderung fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.
Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot melemah Rp 10 atau 0,06% menjadi Rp 17.804 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, secara mingguan rupiah masih mencatat penguatan 0,31% dibandingkan posisi Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026). Sementara itu, kurs rupiah Jisdor tercatat stagnan di level Rp 17.826 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs referensi tersebut masih menunjukkan penguatan 0,53% dari posisi Rp 17.921 per dolar AS pada pekan sebelumnya.
Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah
Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah pada akhir pekan lebih dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang masih berlanjut. Pada Jumat (19/6/2026), indeks dolar AS berada di level 100,758 atau menguat 2,49% secara year-to-date (Ytd). Menurut Lukman, penguatan dolar AS ini menjadi faktor utama yang menahan laju penguatan rupiah meskipun sentimen domestik cenderung membaik.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan di Tengah Euforia Piala Dunia 2026 Sentimen Domestik Mulai Menguat
Di sisi lain, kondisi fundamental domestik menunjukkan perbaikan dalam sepekan terakhir. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong peningkatan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk rupiah. Selain itu, pasar juga merespons positif hasil peninjauan (review) MSCI yang memberikan sentimen tambahan bagi pasar keuangan Indonesia. “Rupiah didukung oleh laporan review MSCI yang direspon positif investor serta prospek kenaikan suku bunga oleh BI kedepan ikut mendukung," ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Jumat (19/6/2026). Sebagai informasi, Bank Indonesia saat ini mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat dinilai dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Faktor Global Masih Dominan
Meski sentimen domestik membaik, Lukman menegaskan bahwa arah pergerakan rupiah tetap sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat. "Namun perkembangan eksternal masih berubah-ubah serta indeks dolar AS yang masih naik mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun pasca hasil FOMC yang hawkish," jelasnya. Kebijakan Federal Reserve yang cenderung hawkish setelah pertemuan FOMC menjadi salah satu faktor yang memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Fokus Pasar Pekan Depan
Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan indikator inflasi acuan bank sentral AS. Selain itu, investor juga akan menunggu revisi final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kekuatan ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga: Peringkat Arus Informasi Indonesia Diturunkan MSCI, Ini Kata Kiwoom Sekuritas Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada pengumuman klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang berpotensi memengaruhi arus modal asing. “Sedangkan investor juga menantikan MSCI untuk merilis klasifikasi IHSG minggu depan, yang tentunya saat ini masih diharapkan tetap menyandang status emerging market," ujarnya. Status Indonesia dalam indeks global tersebut dinilai krusial karena dapat mempengaruhi aliran dana asing ke pasar saham dan valuta asing domestik.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran terbatas dengan kecenderungan fluktuatif. Tekanan eksternal dari penguatan dolar AS diperkirakan masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan rupiah. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS, dengan peluang penguatan terbatas apabila sentimen global membaik dan data ekonomi AS menunjukkan perlambatan inflasi. Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing dalam waktu dekat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News