KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terbatas setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan keputusan BI terkait suku bunga acuan hari ini sejatinya sesuai dengan ekspektasi dan sudah diantisipasi oleh pasar. Oleh sebab itu, respons rupiah dalam jangka pendek terhadap hasil RDG BI diperkirakan tidak akan terlalu besar. Melansir Bloomberg, pada Rabu (19/8/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.840 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,12% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.862 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 0,86% ke 6.394, Top Losers LQ45: ESSA, PGEO, INDY, Rabu (18/8) “Dengan posisi rupiah di sekitar Rp 17.830 hingga Rp 17.860 per dolar AS, BI masih memiliki ruang untuk membiarkan transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya bekerja tanpa menambah tekanan pada biaya pendanaan sektor riil,” ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). Karena itu, fokus kebijakan BI dinilai dapat diarahkan pada instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kendati demikian, Yusuf berpandangan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. BI telah melakukan sejumlah langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, NDF dan DNDF, menjaga daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta memperluas fasilitas lindung nilai bagi investor asing. Tantangan eksternal juga masih menjadi risiko bagi rupiah. Harga minyak yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah, yield obligasi AS yang masih tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati. Dari dalam negeri, risiko rupiah berasal dari pelemahan neraca eksternal, tekanan terhadap cadangan devisa, serta ketergantungan Indonesia terhadap arus modal portofolio. “Artinya, meskipun rupiah sudah kembali di bawah Rp 18.000, ruang volatilitasnya masih cukup besar,” jelasnya. Lebih lanjut, Yusuf memproyeksikan rupiah akan bertengger di rentang Rp 17.500-Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir 2026. Tetapi ia membidik, dalam jangka pendek rupiah masih akan bergerak
sideways. Namun, peluang penguatan secara moderat terbuka pada kuartal IV 2026 apabila aliran modal membaik dan harga komoditas tetap stabil. Di sisi lain, risiko rupiah kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS tetap terbuka. Kondisi tersebut dapat terjadi apabila tensi geopolitik meningkat atau kondisi eksternal Indonesia memburuk. "Jadi, penguatan rupiah saat ini belum bisa disebut sebagai perubahan struktural karena masih cukup bergantung pada sentimen dan arus modal," kata Yusuf. Sementara itu, di tengah volatilitas rupiah, Yusuf tidak menyarankan investor mengambil posisi valas secara agresif.
Menurutnya, dolar AS masih relevan sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai karena perannya sebagai aset
safe haven. Namun, eksposur terhadap dolar AS sebaiknya dibangun secara bertahap. Selain valas, investor juga dapat mempertimbangkan emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, khususnya apabila ketidakpastian global kembali meningkat.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat Menjadi Rp 17.840 per Dolar AS Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News