KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan. Setelah dibuka di level Rp 16,775 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (26/9/2025), mata uang Garuda sempat melemah 0,17% ke level 16.753,3 per dolar AS pada pukul 14.35 wib.
Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo membeberkan, tekanan terhadap rupiah bukan hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga derasnya dinamika global.
Dari sisi domestik, keputusan bank-bank BUMN menaikkan bunga deposito dolar Amerika Serikat (AS) hingga 4% dinilai menjadi pemicu meningkatnya permintaan dolar di dalam negeri.
Baca Juga: Rupiah dan Dolar Taiwan Jadi Mata Uang Asia Paling Lesu Hari Ini Kebijakan ini mendorong nasabah menukar rupiah ke dolar untuk memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi sekaligus menyimpan dana pada mata uang yang lebih stabil. Menurut Banjaran, fenomena ini tidak bisa dihindari karena suku bunga deposito valas yang ditawarkan sudah kompetitif dibanding negara lain. “Kita tidak bisa menghindari fenomena domestik
buying dollar, karena
rate ini
competitive seperti di Singapura. Baik luar maupun dalam negeri ada menariknya,” tutur Banjaran kepada Kontan, Jumat (26/9/2025). Di sisi lain, Banjaran melihat faktor eksternal juga memberi tekanan kuat. Pidato terakhir Gubernur The Fed, Jerome Powell, yang dinilai masih
hawkish, membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Oktober 2025 menurun. Kondisi ini berimbas ke seluruh kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan, BI Komitmen All Out Stabilkan Rupiah Ia menilai, tantangan kebijakan moneter kini bukan lagi soal menarik arus investasi masuk (
inflow), melainkan menjaga agar tidak terjadi arus keluar (
outflow). Karena itu, ia menilai perlu ada sinergi kebijakan antara moneter dan fiskal. Salah satunya, pembahasan mengenai aturan pajak ditanggung pemerinntah (DTP) atau kemungkinan insentif jangka pendek. Lebih lanjut, Banjaran juga menilai, surplus neraca perdagangan yang sudah berlangsung selama 63 bulan beruntun atau hingga Juli 2025 memang cukup membantu untuk menahan pelemahan rupiah. “Tetapi tren surplus ekspor ini kalau tidak dijaga cadangan devisa yang
equivalent 6 bulan impor ini bisa dibawah. Bikin pasar lebih was was,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News