Rupiah Masih Tertekan, Faktor Global Jadi Penggerak Utama



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah disebut masih lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal ketimbang pergantian Menteri Keuangan (Menkeu).

Pasar saat ini masih mencermati arah kebijakan fiskal yang akan dijalankan oleh Menkeu Suahasil Nazara, terutama terkait upaya memperkuat soliditas dan keberlanjutan fiskal.

Sehari setelah pergantian Menkeu, pada Selasa (15/9/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,14% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.669 per dolar AS.


Baca Juga: Timah Bakal Jadi Komoditas Pertama yang Diperdagangkan di ICOMEX

Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, pergantian Menkeu sejauh ini tidak terlalu memengaruhi pergerakan rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Pergerakan IHSG dan rupiah tidak terlalu terpengaruh oleh penggantian Menkeu. Khusus rupiah, ia lebih didorong oleh faktor global," ujar Wijayanto kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, pasar masih menunggu kebijakan yang akan ditempuh Suahasil, khususnya dalam memperkuat soliditas dan keberlanjutan fiskal. Dengan demikian, dampak pergantian figur di Kementerian Keuangan terhadap rupiah belum terlihat signifikan.

Wijayanto juga menilai pelemahan rupiah dalam perdagangan terakhir masih tergolong normal dan belum mencerminkan kekhawatiran berlebihan dari pasar terhadap perubahan kebijakan fiskal.

Di sisi lain, Suahasil sejatinya mendapat respons positif dari kalangan dunia usaha. Namun, pendekatan yang diambil berbeda dengan Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa.

"Pak Sua sesungguhnya direspons positif oleh dunia usaha. Tetapi, berbeda dengan Pak Purbaya yang menjanjikan banyak hal begitu dilantik, ia memilih untuk menahan diri dari memberikan harapan berlebih kepada pasar dan dunia usaha," jelasnya.

Dalam kondisi rupiah saat ini, Wijayanto menilai faktor kebijakan moneter global lebih berpengaruh. Pasar terutama mencermati arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).

Lebih lanjut, Wijayanto melihat rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan apabila pemerintah tidak menunjukkan keseriusan untuk mengubah arah kebijakan fiskal dan sektoral. Menurut dia, penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan manajemen fiskal.

Ia memandang pemerintah perlu lebih fokus pada kualitas pertumbuhan ekonomi dibandingkan sekadar mengejar nominal pertumbuhan. Selain itu, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga perlu diperbaiki dengan memangkas anggaran sejumlah program strategis dan meningkatkan alokasi untuk transfer ke daerah.

Pemerintah juga perlu lebih mendorong peran sektor swasta dalam perekonomian. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas sekaligus memperkuat fundamental rupiah.

"Nilai tukar rupiah saat ini sangat artifisial, akibat doping dari BI yang mendekati level maksimal," pungkas Wijayanto.

Baca Juga: Bank Sentral Borong Emas, Tren Bullish Jangka Panjang Masih Terjaga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News