KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki tahun 2026, nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terbaru, pada perdagangan Kamis (8/1/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian ke level Rp 16.798 per dolar AS. Bahkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah melemah 0,09% secara harian dan menyentuh level Rp 16.801 per dolar AS. Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo memproyeksikan pergerakan rupiah pada kuartal I-2026 diprediksi masih akan berada dalam fase tekanan yang cukup fluktuatif. Namun memiliki ruang untuk stabilisasi di tengah tantangan global yang dinamis.
Baca Juga: Rupiah Terdepresiasi Awal Pekan, Ini Proyeksi Pergerakannya Selasa (6/1) Pada awal tahun ini, nilai tukar diperkirakan bergerak pada rentang Rp 16.700 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Ini mencerminkan sikap hati-hati pasar dalam merespons ketidakpastian ekonomi global serta transisi kebijakan di dalam negeri. “Pelemahan yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari tren penyesuaian pasar terhadap kondisi likuiditas global yang masih ketat, meskipun fundamental ekonomi domestik Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan yang solid,” ujar Sutopo kepada Kontan, Kamis (8/1/2026). Sutopo menambahkan, sentimen utama yang memengaruhi posisi mata uang Garuda adalah arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kini sangat sensitif terhadap data ketenagakerjaan dan inflasi AS. Di sisi domestik, pasar sedang mencermati sikap Bank Indonesia yang tetap dovish demi mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga sebesar 150 bps sejak tahun lalu, yang secara otomatis mempersempit selisih imbal hasil (yield spread) dengan aset dolar.
Baca Juga: Kurs Rupiah Melemah Awal 2026, Dolar AS Menguat Saat Likuiditas Tipis Selain itu, Sutopo menyebut hambatan eksternal berupa pelemahan ekspor komoditas utama serta dampak inflasi musiman pasca-bencana alam di Sumatra turut menambah beban pada neraca pembayaran Indonesia di awal tahun ini. Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan mengatakan, risiko domestik non-ekonomi turut memperburuk sentimen. Serangkaian bencana alam besar yang terjadi di Sumatra, disusul banjir di Kalimantan, serta potensi gangguan serupa di Pulau Jawa, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi, fiskal, dan logistik nasional. Dampak bencana, baik dari sisi anggaran negara maupun aktivitas ekonomi, cenderung menjadi faktor negatif jangka pendek bagi nilai tukar serta cara tanggap pemerintah pun terhadap penanggulangan bencana juga diamati oleh investor asing yang akan berperngaruh terhadap Foreign Direct Investment (FDI).
Adapun, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada pertemuan pertengahan Desember, menandai pertemuan ketiga berturut-turut tanpa perubahan kebijakan setelah total pemangkasan suku bunga sebesar 150 basis poin sepanjang setahun terakhir. Sikap ini mencerminkan fokus bank sentral untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain membatasi daya tarik rupiah.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Stabil di 2026, Ditopang Arus Modal Asing dan Prospek Ekonomi “Pejabat Bank Indonesia juga terus membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan lanjutan, terutama jika tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat. Kondisi ini menjadi faktor pembebanan tambahan bagi Rupiah, karena selisih suku bunga dengan negara maju berpotensi semakin menyempit,” ujar Brahmantya.