KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini. Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga mendorong investor kembali memburu aset berdenominasi dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,31% ke level Rp 17.907 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (30/6). Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.851 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Selasa (30/6), JISDOR berada di level Rp 17.899 per dolar AS, turun 0,24% dibandingkan posisi sehari sebelumnya sebesar Rp 17.856 per dolar AS.
Baca Juga: Sektor Finansial & Konsumsi Bisa Pimpin Pemulihan Semester II, Ini Pilihan Sahamnya Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, penguatan indeks dolar AS terjadi seiring pelaku pasar mencermati perkembangan hubungan antara AS dan Iran. Investor masih menunggu kejelasan mengenai kelanjutan pembicaraan kedua negara setelah muncul berbagai sinyal yang saling bertolak belakang dari masing-masing pihak. Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter The Fed juga menjadi penopang utama penguatan dolar AS. Menurut Ibrahim, pasar kini semakin yakin bank sentral AS masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada tahun ini setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish.
Menanti Data Ketenagakerjaan AS
Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP), yang dijadwalkan terbit pada Kamis. "Perhatian pasar saat ini beralih ke data ketenagakerjaan AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis Kamis. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed," ujar Ibrahim dalam risetnya. Data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu indikator utama yang menentukan arah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Jika data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin besar dan berpotensi memperkuat dolar AS.
Sentimen Domestik Masih Membayangi
Dari dalam negeri, pasar juga menantikan rilis data neraca perdagangan Indonesia periode Mei. Ibrahim menilai, penyusutan surplus perdagangan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), sehingga dapat menekan ketahanan sektor eksternal dan nilai tukar rupiah apabila tidak diimbangi dengan masuknya aliran modal asing. Ia mencatat, surplus perdagangan kumulatif Indonesia hingga April 2026 hanya mencapai US$ 5,64 miliar. Nilai tersebut turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas US$ 10 miliar. Sementara itu, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 telah mencapai sekitar US$ 4 miliar. Dari sisi inflasi, tekanan harga juga masih menjadi perhatian. Inflasi pada Mei mendekati batas atas target Bank Indonesia, terutama akibat kenaikan harga pangan. Selain itu, terdapat ketimpangan inflasi di sejumlah wilayah, khususnya di Sumatra.
Baca Juga: Ruang Pemulihan Indeks Kompas 100 di Semester II-2026 Terbuka, Ini Saran Analis Menurut Ibrahim, kondisi tersebut dipengaruhi oleh belum efisiennya rantai distribusi pangan, faktor cuaca, serta kenaikan biaya logistik global yang berpotensi mendorong inflasi barang impor. Di luar faktor ekonomi makro, sentimen domestik turut dibayangi kekhawatiran pasar terhadap aspek tata kelola. Hal ini muncul setelah terbitnya regulasi yang memberikan perlindungan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai transparansi di pasar keuangan dan berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap aset domestik. Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (1/7) masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News