KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan biaya produksi industri serat dan benang. Pasalnya, ketergantungan industri terhadap komponen impor masih tinggi, mulai dari bahan baku berbasis minyak bumi hingga mesin dan suku cadang produksi. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wirawasta mengatakan, meskipun asam tereftalat (PTA) tersedia dari produksi dalam negeri, harga pembeliannya tetap mengacu pada dolar AS karena merupakan produk turunan minyak mentah atau crude oil. Dengan demikian, pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap biaya pengadaan bahan baku meskipun transaksi pembeliannya dilakukan menggunakan rupiah. Selain itu, sekitar 90% kebutuhan mesin dan suku cadang industri serat dan benang masih dipenuhi dari impor.
Rupiah Melemah 12,5%, Biaya Produksi Industri Serat dan Benang Ikut Membengkak
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan biaya produksi industri serat dan benang. Pasalnya, ketergantungan industri terhadap komponen impor masih tinggi, mulai dari bahan baku berbasis minyak bumi hingga mesin dan suku cadang produksi. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wirawasta mengatakan, meskipun asam tereftalat (PTA) tersedia dari produksi dalam negeri, harga pembeliannya tetap mengacu pada dolar AS karena merupakan produk turunan minyak mentah atau crude oil. Dengan demikian, pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap biaya pengadaan bahan baku meskipun transaksi pembeliannya dilakukan menggunakan rupiah. Selain itu, sekitar 90% kebutuhan mesin dan suku cadang industri serat dan benang masih dipenuhi dari impor.
TAG: