Rupiah Melemah 12,5%, Biaya Produksi Industri Serat dan Benang Ikut Membengkak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan biaya produksi industri serat dan benang. Pasalnya, ketergantungan industri terhadap komponen impor masih tinggi, mulai dari bahan baku berbasis minyak bumi hingga mesin dan suku cadang produksi.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wirawasta mengatakan, meskipun asam tereftalat (PTA) tersedia dari produksi dalam negeri, harga pembeliannya tetap mengacu pada dolar AS karena merupakan produk turunan minyak mentah atau crude oil.

Dengan demikian, pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap biaya pengadaan bahan baku meskipun transaksi pembeliannya dilakukan menggunakan rupiah. Selain itu, sekitar 90% kebutuhan mesin dan suku cadang industri serat dan benang masih dipenuhi dari impor.


Baca Juga: SKK Migas: Sumur BKT-061 Pertamina EP Capai Uji Produksi 2.765 BOPD

"Mesin dan suku cadang juga 90% impor, jadi pelemahan rupiah ini jadi beban tambahan biaya produksi. Semua beban produksi akan diteruskan ke konsumen," ujar Redma kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Menurut Redma, tekanan biaya akibat pelemahan rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan kurs dalam beberapa waktu terakhir. Ia mencatat, nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 16.000 per dolar AS kini telah mencapai sekitar Rp 18.000 per dolar AS. Artinya, rupiah telah melemah sekitar 12,5%.

Kondisi tersebut, kata Redma, membuat biaya bahan baku meningkat sekitar 6% akibat faktor nilai tukar sejak pertengahan 2024. 

"Karena itu, pelemahan rupiah saat ini bukan lagi sekadar kenaikan biaya dalam jangka pendek," jelasnya.

Redma menilai, kenaikan kurs sebesar Rp 200-Rp 300 dalam periode terkini relatif kecil jika dibandingkan dengan akumulasi pelemahan rupiah sejak 2024. Namun, tekanan yang telah berlangsung cukup lama tetap menjadi beban bagi produsen.

Dari sisi produksi, Redma menyebut industri serat dan benang saat ini belum melakukan pengurangan produksi lebih lanjut karena tingkat produksi sudah berada pada level minimum.

Meski begitu, utilisasi industri menunjukkan tren penurunan. Jika pada 2024 tingkat utilisasi produksi masih berada di kisaran 55%, saat ini angkanya telah turun di bawah 50%.

Redma menegaskan, penurunan utilisasi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh pelemahan rupiah. Ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi kondisi industri serat dan benang.

Baca Juga: SKK Migas: Sumur BKT-061 Pertamina EP Capai Uji Produksi 2.765 BOPD

Di tengah tekanan biaya dan persaingan produk impor, pelemahan rupiah menjadi tambahan tantangan bagi produsen. Kenaikan biaya produksi yang diteruskan kepada konsumen juga perlu dicermati agar tidak semakin menekan daya saing produk industri dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News