Rupiah Melemah, Bank Lebih Selektif Salurkan Kredit Valas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat industri perbankan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit valuta asing (valas). Kondisi ini mendorong bank untuk lebih selektif memilih debitur, terutama di tengah tingginya volatilitas global dan penguatan dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, mengatakan pelemahan rupiah meningkatkan risiko kredit valas, khususnya bagi debitur yang memiliki kewajiban dalam dolar AS namun sumber pendapatannya masih berbasis rupiah.

“Dalam kondisi seperti ini, bank hampir pasti akan lebih selektif menyalurkan kredit valas dan cenderung memprioritaskan sektor yang memiliki natural hedge seperti eksportir, komoditas, migas, maupun perusahaan dengan arus kas dolar,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).


Menurut Rizal, tekanan global yang dipicu suku bunga AS yang masih tinggi, penguatan dolar AS, hingga capital outflow dari emerging market membuat perbankan lebih fokus menjaga kualitas aset dibanding melakukan ekspansi kredit secara agresif.

Baca Juga: Menengok Mesin Pendorong Laba Bank KBMI 1 pada Kuartal I-2026

Ia menilai pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kredit valas, terutama pada sektor yang bergantung pada impor bahan baku namun tidak memiliki fleksibilitas untuk segera menyesuaikan harga jual.

“Ketika kurs naik, beban cicilan dan biaya produksi ikut meningkat sehingga arus kas debitur menjadi lebih rentan,” katanya.

Meski demikian, Rizal menyebut secara industri rasio NPL perbankan masih relatif terjaga. Namun, apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam jangka waktu panjang, risiko kredit di sejumlah sektor diperkirakan mulai meningkat.

Di sisi lain, penyaluran kredit valas diproyeksikan masih mencatat pertumbuhan sepanjang tahun ini, meskipun lajunya diperkirakan lebih moderat dibanding periode sebelumnya. Permintaan kredit masih datang dari sektor perdagangan internasional, energi, hingga industri berbasis impor.

“Volatilitas nilai tukar dan mahalnya biaya dana global membuat bank lebih berhati-hati dalam ekspansi. Selain itu, tekanan likuiditas dolar domestik juga dapat membuat cost of fund valas meningkat,” jelas Rizal.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Rizal menyarankan perbankan memperkuat mitigasi risiko dan menjaga prinsip kehati-hatian. Salah satunya melalui pengetatan stress test terhadap debitur yang memiliki eksposur dolar AS serta memperbesar penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging.

“Dalam situasi seperti sekarang, menjaga kualitas kredit dan stabilitas likuiditas jauh lebih penting dibanding memaksakan pertumbuhan kredit yang terlalu agresif,” imbuhnya.

Sejumlah bank pun mulai menyesuaikan strategi bisnis untuk menghadapi volatilitas nilai tukar. PT Bank Central Asia Tbk mencatat penyaluran kredit valas per Maret 2026 mencapai Rp 48,9 triliun atau tumbuh 2,9% secara tahunan (YoY).

Baca Juga: MNC Bank Siapkan Private Placement 4,45 Miliar Saham untuk Perkuat Kredit

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan perseroan terus mencermati dinamika nilai tukar serta perkembangan ekonomi domestik maupun global dalam menyalurkan kredit valas.

“Ke depan, penyaluran kredit valas akan terus disesuaikan dengan kondisi pasar, kebutuhan nasabah, serta perkembangan perekonomian secara umum,” ujar Hera.

Ia menambahkan, BCA tetap melakukan pemantauan kualitas kredit secara prudent guna menjaga kualitas aset tetap sehat.

Sementara itu, PT Bank OCBC NISP Tbk memastikan eksposur kredit valas tetap terkendali di tengah tekanan rupiah. Direktur OCBC NISP, Martin Widjaja, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir tren permintaan kredit valas justru mengalami penurunan seiring meningkatnya preferensi korporasi terhadap pembiayaan rupiah.

“Komposisi kredit valas kita selama 2-3 tahun terakhir sudah banyak penurunan. Karena banyak sekali korporasi yang lebih memilih untuk meminjam dalam bentuk rupiah,” kata Martin.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat portofolio kredit valas OCBC NISP lebih terjaga dari risiko volatilitas dolar AS. Meski demikian, kredit valas masih berpotensi tumbuh dari sektor berbasis ekspor yang memiliki pendapatan dalam mata uang asing.

“Bukan berarti kredit valas tidak akan tumbuh. Ada beberapa sektor yang memang basis income-nya untuk ekspor, mereka akan tetap meminjam dalam bentuk USD,” ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penyaluran kredit valas per kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 40,5 triliun atau menyusut 11,4% secara tahunan.

Baca Juga: BSI Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp75,3 Triliun hingga Maret 2026

OCBC NISP memperkirakan pertumbuhan kredit valas tahun ini berada di kisaran high single digit.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama KB Bank, Kunardy Lie. Ia mengatakan KB Bank kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit valas dengan fokus pada nasabah yang memiliki fundamental bisnis kuat dan profil risiko yang baik.

“Permintaan kredit valas juga masih terbatas, dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik seperti volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global,” katanya.

Kunardy menambahkan, korporasi kini cenderung mengurangi eksposur terhadap risiko nilai tukar sehingga pertumbuhan kredit valas diproyeksikan tetap lebih rendah dibandingkan kredit rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News