KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menjadi tantangan bagi kualitas aset perbankan ke depan, terutama bagi debitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor dan utang luar negeri. Meski demikian, perbankan menegaskan telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga rasio kredit bermasalah tetap terkendali. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, tekanan rupiah dapat meningkatkan risiko kredit pada sektor-sektor tertentu. Industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku dan barang modal impor, seperti pakaian jadi, alas kaki, elektronik, hingga otomotif, dinilai paling rentan. “Industri yang orientasinya pasar domestik tetapi bahan bakunya impor menghadapi risiko double down. Biaya produksi naik, sementara daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, sedang tertekan,” ujar Bhima kepada kontan.co.id, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, risiko juga meningkat pada debitur yang memiliki porsi utang luar negeri besar. Pelemahan rupiah akan membuat beban pembayaran bunga dan pokok utang valas melonjak. “Semakin besar porsi utang luar negeri, semakin sensitif terhadap fluktuasi kurs,” jelasnya.
Baca Juga: Permata Bank Targetkan Kredit Konsumer Tumbuh 10% pada 2026 Bhima menambahkan, tidak semua sektor berbasis komoditas menikmati keuntungan dari pelemahan rupiah. Meski harga batu bara dan nikel berpotensi naik, pengetatan regulasi, pengenaan bea keluar, standar ekspor yang lebih ketat, hingga pemangkasan produksi membatasi potensi windfall bagi perusahaan tambang. Sektor properti pun dinilai terdampak karena sejumlah material konstruksi masih bergantung pada impor, sehingga kenaikan harga rumah berpotensi tidak sejalan dengan permintaan kredit pemilikan rumah (KPR). “Ke depan, pergerakan kurs harus menjadi salah satu parameter utama dalam evaluasi kredit, apalagi dengan risiko rupiah yang masih rentan hingga kisaran Rp 17.500 per dolar AS pada semester I 2026,” tegas Bhima.
Baca Juga: Bank Diversifikasi Produk Demi Dorong Pertumbuhan Kredit Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) menilai pelemahan rupiah tidak akan berdampak signifikan terhadap kualitas aset perseroan. Direktur Risiko, Kepatuhan & Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli menjelaskan, kredit dalam valuta asing hanya diberikan kepada debitur berorientasi ekspor yang memiliki pendapatan dolar AS. “Dengan demikian, pelemahan rupiah memiliki dampak minimal terhadap kemampuan bayar debitur,” ujarnya. Allo Bank juga telah menyiapkan mekanisme penyediaan dana untuk menghindari risiko nilai tukar dalam pemenuhan kewajiban bunga. Namun, Ganda mengakui bank tetap mewaspadai dampak tidak langsung dari pelemahan rupiah terhadap perekonomian nasional, khususnya sektor konsumsi. “Jika daya beli masyarakat melemah, efek domino terhadap aktivitas usaha dan kemampuan bayar debitur bisa terjadi,” kata dia.
Baca Juga: Kredit Sindikasi Indonesia Turun 11% pada 2025, Simak Prospeknya untuk 2026 Adapun sektor yang paling dicermati Allo Bank adalah debitur produksi yang menggunakan bahan baku impor tetapi menjual produknya dalam rupiah, serta debitur perdagangan yang menjual barang impor di pasar domestik. Meski demikian, rasio kredit bermasalah (NPL) Allo Bank hingga akhir 2025 tercatat stabil dibandingkan 2024 dan jauh di bawah ambang batas OJK sebesar 5%. Dari bank lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan kualitas aset perseroan tetap terjaga dengan NPL di bawah 2%. “Kami terus memonitor dampak pelemahan rupiah terhadap debitur berdenominasi dolar AS, namun mayoritas kredit CIMB Niaga berada dalam rupiah,” ujarnya. Senada, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menegaskan, BCA secara konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika makroekonomi. BCA lanjut Hera, mengelola risiko nilai tukar dengan menjaga rasio Posisi Devisa Neto (PDN) secara konservatif serta menerapkan penetapan dan pengendalian limit risiko pasar. “Fokus pada fundamental bisnis dan pengelolaan risiko yang disiplin menjadi kunci menjaga kinerja dan kualitas aset di tengah fluktuasi nilai tukar,” pungkas Hera.
Baca Juga: Bank Mulai Kurangi Penempatan di SRBI, Fokus Dorong Penyaluran Kredit Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News