KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis layanan transaksi lindung nilai (
hedging) nampaknya masih belum terlalu digeber oleh bank. Di tengah gejolak global dan depresiasi rupiah, penyaluran layanan
hedging dijaga lebih disiplin. PT Bank OCBC NISP Tbk misalnya mengatakan penyaluran bisnis
hedging tahun ini akan jauh lebih selektif untuk mengurangi risiko dari volatilitas nilai tukar rupiah. Direktur Bank OCBC, Johannes Husin menyebut banknya terus memantau kondisi global. Sebab itu, layanan
hedging akan lebih dijaga ketat karena adanya kenaikan risiko.
Baca Juga: Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun "Kedisiplinan untuk hedging itu sangat tinggi sekarang, untuk mengurangi volatilitas jangka medium sampe jangka panjang," kata Johannes belum lama ini. Secara portofolio, Johannes bilang komposisi dana simpanan dan kredit valuta asing (valas) di Bank OCBC masih terjaga dengan baik. Ia pun menyebut komposisi kredit valas di banknya sudah banyak mengalami penurunan sejak 2-3 tahun terakhir. "Banyak sekali korporasi yang lebih memilih untuk meminjam dalam bentuk rupiah. Jadi dari sisi portofolio,
exposure terhadap volatilitas dolar AS sudah sangat terjaga," ucapnya. Untuk layanan hedging, Johannes menyebut banknya masih menyediakan instrumen-instrumen yang umum, seperti FX forward,
cross currency swap, dan
interest rate swap. "Semua instrumen itu dilakukan jauh lebih disiplin untuk menjaga risiko volatilitas tersebut," ujarnya. Johannes optimistis aktivitas hedging banknya saat ini belum akan terpengaruh besar oleh penurunan nilai tukar rupiah. Untuk kredit valas sendiri, Johannes memproyeksi pertumbuhannya pada akhir tahun mencapai high single digit. PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mengutarakan pendapat yang sama. CIMB Niaga tetap melakukan bisnis layanan
hedging, tetapi tidak menggencarkan pertumbuhannya.
Baca Juga: Kuatkan Ekosistem UMKM Jadi Strategi Kredit Pintar Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang, model bisnis banknya tidak fokus pada layanan hedging untuk tahun ini. CIMB Niaga menyediakan sejumlah layanan instrumen hedging, seperti FX Forward, FX Swap, PAR Forward, Cross Currency Interest, dan Interest Rate Swap. "Kami tidak menargetkan khusus
hedging secara bisnis," kata Lani saat dihubungi, Senin (27/4/2026). Di sisi lain, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan menyebut kondisi volatilitas rupiah saat ini justru bisa jadi peluang bagi bank menumbuhkan bisnis
hedging-nya. Trioksa menilai dalam kondisi seperti ini, akan ada banyak permintaan hedging dari para importir untuk menjaga stabilitas bisnisnya agar tidak mengalami kerugian lebih tinggi karena selisih kurs. "Saya melihat kondisi ini justru jadi potensi bisnis bagi bank jadi belum perlu menahan layanan
hedging," kata Trioksa saat dihubungi, Senin (27/4/2026).
Akan tetapi, Trioksa meminta bank untuk menjaga disiplin alam mengelola risikonya, terutama terkait dengan
market risk dan
liquidity risk. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto juga menilai, transaksi hedging harusnya semakin meningkat di tengah kondisi rupiah saat ini. Ia menilai, saat ini transaksi hedging menjadi salah satu kebutuhan nasabah untuk menjaga keamanan dananya.
Baca Juga: Kredit UMKM Terkontraksi, OJK Optimistis Tren Akan Membaik Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News