KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus melemah bahkan makin mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, ada emiten berpotensi mendapat berkah dari pelemahan mata uang garuda ini. Pada Senin (19/1/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup pada Rp 16.955 per dolar AS atau melemah 0,40% secara harian. Ini jadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, setiap kali pelemahan rupiah, akan menjadi sentimen positif emiten berbasis ekspor untuk mendapatkan keuntungan.
Oleh sebab itu, hal ini dapat dijadikan kesempatan bagi pelaku pasar dan investor untuk bisa memilih saham yang berbasis ekspor. Namun harus dipilih saham yang memang memiliki pangsa pasar besar dari sisi ekspor.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Selasa (20/1), Ini Rekomendasi Analis “Komoditas merupakan salah satu sektor yang wajib diperhatikan, terutama mereka yang mengirimkan ekspor dalam jumlah besar,” katanya kepada Kontan, Senin (19/1/2026). Namun, Nico menekankan, semua akan kembali kepada seberapa besar eksposure ekspor yang mereka miliki dan seberapa banyak para emiten dari sektor itu melakukan pengiriman tersebut. “Mata uang yang digunakan juga menjadi salah satu poin yang penting, pembayaran melalui dolar AS akan jauh lebih diuntungkan dibandingkan dengan mata uang valas yang lainnya,” ucapnya. Untuk itu, Nico menyebut ada empat hal yang perlu dicermati investor. Yakni, perhatikan proporsi pendapatan ekspor, kebijakan
hedging, biaya produksi dan harga komoditas global. Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menambahkan pelemahan rupiah memang menguntungkan emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS karena nilai konversi ke rupiah menjadi lebih besar Menurutnya, saham yang ideal dilirik adalah emiten dengan pendapatan ekspor dominan di atas 50%, biaya produksi mayoritas rupiah dan memiliki natural
hedging atau manajemen risiko valas yang baik.
Baca Juga: Saham Otomotif Diprediksi Melaju pada Tahun 2026, Ini Faktor Pendukungnya “Jadi strategi yang tepat bukan sekadar beli saham dengan orientasi ekspor, melainkan memilih emiten dengan
net exposure positif terhadap dolar AS,” kata Alrich. Alrich menilai sektor yang relatif merasakan dampak positif dari pelemahan rupiah antara lain sektor komoditas berbasis ekspor seperti batu bara, kelapa sawit, logam, serta
pulp dan
paper. Meskipun demikian, kata dia, besarnya manfaat yang diperoleh tetap bergantung pada struktur biaya, ketentuan kontrak penjualan, serta volatilitas harga komoditas global. “Saham yang paling menarik di sektor batubara karena pelemahan rupiah 5%–10% dapat mendorong kenaikan laba bersih 15%–30%, terutama jika harga komoditas global stabil atau naik,” kata Alrich. Dari beberapa saham di sektor komoditas, Alrich menilai
ADRO paling menarik untuk dilirik saat pelemahan rupiah. Di mana, sekitar 75%–80% dari penjualan ADRO berasal dari kegiatan ekspor dan sekitar 25% dari pasar domestik.
Alrich merekomendasikan
buy on support ADRO dengan area masuk di kisaran Rp 2.100. Adapun target terdekat ADRO di Rp 2.300 dan berikutnya di Rp 2.300 dengan batas
stop loss di bawah Rp 2.000.
Sementara saham pilihan Nico jatuh pada ADRO,
ITMG,
PTBA,
AALI dan
LSIP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News