KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak global mulai menekan sejumlah sektor usaha, terutama yang bergantung pada bahan baku impor dan energi. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,12% menjadi Rp 17.346 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan, dampak paling besar dirasakan oleh sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap input berbasis minyak dan logistik.
"Tekanan paling kuat terlihat di produk kilang, bahan kimia dasar serta sektor transportasi seperti darat, udara, dan laut," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Optimistis Raih Kinerja Keuangan Lebih Baik pada 2026 Selain itu, sektor lain seperti pertanian, kehutanan, perikanan hingga industri turunan seperti plastik, karet, serat sintetis, cat, dan tinta cetak juga mulai terdampak. Menurut Josua, tekanan juga mulai terasa di sektor manufaktur. Indikator aktivitas industri menunjukkan perlambatan, tercermin dari penurunan output dan pesanan baru. Keterlambatan pengiriman tercatat menjadi yang paling tajam sejak Oktober 2021, seiring terganggunya rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah. "Kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan membuat tekanan inflasi input semakin kuat," kata Josua. Josua menambahkan, tekanan tidak hanya dirasakan oleh importir langsung, tetapi juga industri yang menggunakan bahan baku turunan minyak atau komponen impor. Dengan kata lain, efek pelemahan rupiah dan kenaikan energi bersifat berantai dan berpotensi memperluas tekanan ke berbagai sektor ekonomi. Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menyebut sektor manufaktur seperti tekstil, elektronik, dan industri tepung menjadi yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah. "Eksposur terhadap rantai pasok global membuat sektor ini sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar," ujar David. Di tengah kondisi ini, David menyarankan agar pelaku pasar juga mencermati potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri yang dapat menambah tekanan biaya di berbagai sektor Di sisi lain, Josua memberikan saran bagi pelaku usaha dan investor untuk mengambil langkah defensif namun tetap terukur. "Pelaku usaha yang punya kewajiban dolar perlu menyesuaikan arus kas valas, mempercepat penerimaan dalam dolar bila ada, menunda pembelian impor yang tidak mendesak, dan memakai lindung nilai untuk kebutuhan valas yang sudah pasti," kata Josua. Selain itu, perusahaan berbasis impor perlu meninjau ulang strategi harga, kontrak pemasok, serta pengelolaan persediaan untuk menghindari lonjakan biaya secara tiba-tiba. Dari sisi investasi, pendekatan yang disarankan adalah menjaga likuiditas dan menghindari posisi spekulatif berlebihan di valuta asing.
Investor juga disarankan lebih selektif dalam memilih aset, dengan fokus pada instrumen berkualitas sambil menunggu kejelasan arah harga minyak dan kebijakan moneter global. "Dalam kondisi seperti sekarang, yang penting bukan menebak level rupiah, tetapi memastikan portofolio tetap tahan terhadap pelemahan," kata Josua.
Baca Juga: IHSG Ditutup Merosot ke Level 6.956 di Penghujung April 2026, Cermati Pemicunya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News