KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi stabil dan resilien, namun sejumlah risiko perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih serius ke pasar dan perekonomian. Josua mengatakan, indikator inti stabilitas sistem keuangan menunjukkan kondisi yang relatif solid. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, didukung permodalan dan kualitas kredit perbankan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87% dan kualitas kredit (NPL) bruto 2,05%, dengan likuiditas yang memadai. Meski demikian, kombinasi pelebaran defisit fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap sentimen. Defisit fiskal diprakirakan melebar dari -2,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2024 menjadi -2,92% pada 2025, sementara rupiah sempat melemah ke Rp 16.945 per dolar AS pada 20 Januari 2026, di tengah arus keluar bersih portofolio sekitar US$ 1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.
Rupiah Melemah, Defisit Membesar, Ekonom Minta Waspada Tekanan di Pasar Keuangan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi stabil dan resilien, namun sejumlah risiko perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih serius ke pasar dan perekonomian. Josua mengatakan, indikator inti stabilitas sistem keuangan menunjukkan kondisi yang relatif solid. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, didukung permodalan dan kualitas kredit perbankan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87% dan kualitas kredit (NPL) bruto 2,05%, dengan likuiditas yang memadai. Meski demikian, kombinasi pelebaran defisit fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap sentimen. Defisit fiskal diprakirakan melebar dari -2,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2024 menjadi -2,92% pada 2025, sementara rupiah sempat melemah ke Rp 16.945 per dolar AS pada 20 Januari 2026, di tengah arus keluar bersih portofolio sekitar US$ 1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.