Rupiah Melemah Dipicu Penguatan Dolar AS, Ini Proyeksi Kamis (2/7)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7). 

Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026), melemah 0,25% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.907 per dolar AS.

Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.961 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (1/7/2026), melemah 0,35% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.899 per dolar AS. 


Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 8% pada Juni, Ini Tiga Faktor Penyebabnya

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia maupun mata uang utama lainnya yang juga terkoreksi terhadap dolar AS.

Menurut Lukman, sentimen utama berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut memicu ekspektasi bahwa Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, akan menyampaikan pernyataan bernada hawkish, sehingga menopang penguatan dolar AS.

"Dolar AS menguat setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat meningkatkan ekspektasi pidato hawkish dari Ketua The Fed malam ini," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Dari dalam negeri, rupiah juga mendapat tekanan setelah data perdagangan Indonesia menunjukkan kinerja yang cenderung mengecewakan. Penurunan ekspor serta terjadinya defisit neraca perdagangan untuk pertama kalinya sejak April 2020 menjadi sentimen negatif bagi mata uang Garuda.

Perlu diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit US$ 1,61 miliar. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu.

Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar US$ 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI US$ 23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Untuk perdagangan Kamis (2/7), Lukman memperkirakan pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah sentimen eksternal. Salah satunya adalah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan dolar AS.

Selain itu, investor juga menunggu rilis data ISM Manufacturing Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi sektor manufaktur Negeri Paman Sam. 

Perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Qatar juga menjadi faktor yang akan dipantau pasar.

Di sisi lain, Lukman menilai investor cenderung menghindari aset dan mata uang negara berkembang atau emerging market besok, menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada akhir pekan ini.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7). 

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Terkoreksi 20% di Juni 2026, Ini Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News