Rupiah Melemah, Eksportir Tambang Berpeluang Untung tetapi Biaya Produksi Ikut Naik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka peluang bagi eksportir pertambangan untuk memperoleh pendapatan lebih besar dari hasil penjualan di pasar internasional. Meski demikian, keuntungan dari selisih kurs berpotensi tergerus oleh kenaikan biaya operasional yang juga bergantung pada dolar AS.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menjelaskan, pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi perusahaan tambang yang memperoleh pendapatan ekspor dalam dolar AS. Pasalnya, nilai pendapatan dalam rupiah akan meningkat ketika dikonversi.

Namun, keuntungan tersebut tidak serta-merta meningkatkan profitabilitas perusahaan. Sejumlah komponen biaya produksi, seperti bahan bakar minyak (BBM), alat berat, suku cadang, dan kebutuhan operasional lainnya, turut dipengaruhi oleh pergerakan kurs dolar AS.


Baca Juga: Belum Untungkan Petani Sawit, SPKS Usul Moratorium Sertifikasi RSPO

"Jadi, sama saja, perusahaan tetap harus memperhitungkan selisih antara keuntungan kurs dan kenaikan biaya operasional," ujarnya kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Dari sisi komoditas, Bisman menilai batubara masih menjadi sektor yang prospektif untuk meningkatkan ekspor. Kendati demikian, peluang tersebut tetap bergantung pada permintaan global, harga komoditas, serta kapasitas produksi masing-masing perusahaan.

"Sementara, nikel, tembaga, dan timah memiliki peluang dari kebutuhan industri baterai, kendaraan listrik, dan elektronik," imbuh Bisman.

Dolar AS tinggi berpotensi menekan margin perusahaan tambang

Bisman menambahkan, kenaikan biaya produksi akan semakin terasa apabila nilai tukar dolar AS bertahan pada level tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan pertambangan, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki ketergantungan besar terhadap komponen impor.

Untuk mengantisipasi tekanan biaya, perusahaan tambang perlu memperkuat efisiensi operasional dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya.

"Perusahaan perlu melakukan efisiensi penambangan, mengoptimalkan penggunaan alat berat dan energi, serta mengevaluasi biaya logistik," terang Bisman.

Baca Juga: Investasi Batam Tumbuh 62,75%, Tana Group Kebut Pengembangan Kawasan AURUM

Selain persoalan kurs dan biaya produksi, keterbatasan operasional juga menjadi tantangan bagi perusahaan pertambangan dalam meningkatkan ekspor. Hambatan tersebut mencakup keterbatasan infrastruktur dan logistik, kapasitas pelabuhan, ketersediaan alat angkut, hingga ketidakpastian permintaan pasar.

Dari sisi regulasi, Bisman menyoroti persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang masih menjadi persoalan bagi pelaku usaha pertambangan.

Menurutnya, pemerintah perlu memberikan kepastian terkait proses dan persetujuan RKAB agar perusahaan dapat merencanakan kegiatan produksi serta ekspor secara lebih optimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News