KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tren pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten yang berorientasi ekspor. Emiten seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) berpotensi menikmati peningkatan pendapatan karena mayoritas penjualannya menggunakan denominasi dolar AS. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan penguatan dolar AS secara umum memberikan dampak positif yang cukup signifikan terhadap sisi pendapatan (
top line) keempat emiten tersebut. Meski demikian, dampaknya terhadap laba bersih akan berbeda-beda.
Baca Juga: Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Ini Rencana WSKT dan WIKA “Namun efeknya terhadap profitabilitas bersih akan bervariasi tergantung pada struktur biaya dan efisiensi operasional masing-masing perusahaan,” terang Nafan kepada Kontan, Jumat (26/6/2026). Menurut Nafan, mayoritas penjualan emiten tersebut berorientasi ekspor atau mengacu pada harga komoditas global yang menggunakan dolar AS. Karena itu, pelemahan rupiah dapat memicu keuntungan selisih kurs saat laporan keuangan dikonversi ke rupiah maupun memperkuat posisi likuiditas kas bagi emiten yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang fungsional, seperti ADRO dan ITMG. Nafan menambahkan, manfaat penguatan dolar akan semakin optimal apabila perusahaan mampu mempertahankan porsi biaya operasional domestik yang masih menggunakan rupiah, seperti biaya tenaga kerja dan kontraktor lokal. Tapi sebaliknya, apabila perusahaan masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap suku cadang impor maupun utang dalam denominasi dolar AS, efek keuntungan kurs tersebut berpotensi tergerus (offset) oleh kenaikan beban keuangan maupun beban pokok pendapatan. Meski diuntungkan oleh pelemahan rupiah, Nafan mengingatkan masing-masing emiten tetap menghadapi tantangan yang berbeda sepanjang sisa tahun 2026. Untuk sektor batubara seperti ADRO dan ITMG, perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India, berpotensi menekan permintaan batubara. Selain itu, tren transisi menuju energi hijau juga membatasi prospek pertumbuhan industri batubara dalam jangka panjang. “Di sisi lain, kebijakan pembatasan produksi maupun realisasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) domestik memaksa emiten bertaruh pada efisiensi biaya per ton (cash cost) agar tidak menggerus margin saat harga acuan global terkoreksi,” imbuh Nafan. Kendati demikian, Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, berpandangan ADRO berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan tren kenaikan harga aluminium tahun ini. Gangguan pasokan aluminium dari Uni Emirat Arab (UEA) akibat konflik Iran-AS/Israel diperkirakan memperlebar defisit pasokan aluminium global. Devi memperkirakan harga rata-rata aluminium meningkat menjadi US$ 3.400 per ton pada 2026, dibandingkan US$ 2.500 per ton pada 2025. “Dari sisi harga, meskipun permintaan dari China diperkirakan relatif datar, kami melihat potensi kenaikan harga dari India yang terus meningkatkan produksi baja berbasis batubara kokas,” terang Devi dalam riset 13 Mei 2026. Tak hanya itu saja, kebijakan pemerintah yang mengumumkan bahwa seluruh ekspor komoditas strategis, termasuk batubara, wajib dilakukan melalui gerbang ekspor tunggal yang dikelola Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan berpotensi negatif pada ITMG. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, juga bilang bahwa perubahan mekanisme pembayaran melalui badan usaha milik negara (BUMN) baru tersebut berpotensi mengubah waktu penyelesaian pembayaran
(settlement), yang dapat memengaruhi arus kas ITMG. Kata Ryan, penerapan Harga Batu Bara Acuan (HBA) berpotensi meningkatkan ASP ITMG. Manajemen juga memperkirakan biaya bahan bakar dapat meningkat sekitar US$ 3 per ton apabila harga bahan bakar bertahan di level saat ini hingga akhir tahun. Meski demikian, implementasi program biodiesel B50 pada semester II 2026 diperkirakan dapat membantu menekan biaya. Sementara itu, bagi INCO, Nafan menjelaskan ketidakpastian geopolitik global dinilai dapat memengaruhi laju adopsi kendaraan listrik (
electric vehicle/EV) di pasar Barat yang pada akhirnya berdampak terhadap permintaan nikel sebagai bahan baku baterai. Selain itu, dinamika regulasi pertambangan di Indonesia, termasuk potensi pengetatan kuota produksi bijih nikel maupun keterlambatan persetujuan RKAB, juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Namun, menurut Nafan, pembatasan pasokan tersebut justru berpotensi menciptakan defisit pasokan global sehingga mampu menjaga harga nikel tetap stabil di kisaran US$ 17.000 per ton. Adapun untuk INKP, Nafan menyebut tantangan utama berasal dari tingginya volatilitas harga pulp dunia yang dipengaruhi kondisi logistik laut dan biaya kontainer internasional. Perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor seperti Tiongkok dan Uni Eropa juga berpotensi menahan permintaan produk pulp dan kertas sehingga volume penjualan dapat tertahan meskipun memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. Menilik kinerja keuangan hingga tiga bulan pertama tahun ini, mayoritas emiten berorientasi ekspor berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. INKP, INCO, dan ADRO sama-sama membukukan kenaikan pendapatan yang diikuti peningkatan laba bersih secara tahunan. Sementara itu, ITMG mengalami kondisi berbeda. Meski pendapatannya masih tumbuh, laba bersih perusahaan justru tergerus.
Di tengah berbagai peluang dan tantangan tersebut, Nafan hanya memberikan rekomendasi
Buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 2.480 per saham. Kemudian Devi juga memberikan rekomendasi kepada investor untuk
buy saham ADRO dengan target harga Rp 3.500 per saham. Sementara Ryan, masih menjagokan saham ITMG untuk buy dengan target harga Rp 34.200 per saham
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Simak Rekomendasi Saham INKP, INCO, ADRO, dan ITMG Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News