Rupiah Melemah Imbas Isu Debt Ceiling AS, Simak Proyeksinya untuk Selasa (30/5)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah ditutup melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (29/5). Rupiah tertekan sentimen dari negosiasi debt ceiling Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan kesepakatan.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan, indeks dolar As kembali menguat ke kisaran level 104 -105 seiring dolar AS yang cenderung menguat terhadap mayoritas mata uang utama dan negosiasi US debt ceiling yang mulai menunjukkan kesepakatan.

Pada pergerakan awal pekan, pelaku pasar kembali khawatir terhadap inflasi AS yang masih sulit turun sehingga muncul spekulasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) lanjutan pada tahun ini. Sebagian anggota The Fed masih melihat terminal rate FFR berada di level 5,25% tahun ini, namun konsensus pasar mencatat probabilitas kenaikan FFR sebesar 25 bps semakin besar (di atas 60%) pada FOMC meeting Juni 2023. 


Terlebih lagi, data inflasi Price Consumption Expenditure (PCE) yang terbaru melebihi ekspektasi pasar, sehingga mendukung spekulasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hawkish dan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Koreksi Lagi, Rupiah Jisdor Melemah ke Rp 14.973 Per Dolar AS pada Senin (29/5)

"Perkembangan ini yang membuat USD kembali menguat," kata Reny kepada Kontan.co.id, Senin (29/5).

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengamati, rupiah terkoreksi tipis di sesi perdagangan awal pekan ini karena sentimen pasar di sesi sore hari masih dibayangi kondisi plafon utang AS sebesar US$31,4 triliun. Update terbaru menunjukkan telah terjadi kesepakatan penangguhan plafon utang AS saat ini hingga 1 Januari 2025.

Kondisi ini membuat pelaku pasar pun menimbang kembali bahwa kesepakatan hanyalah satu langkah dalam proses, dan kesepakatan dari DPR dan Senat pada 5 Juni masih merupakan permintaan besar.

Perjanjian tersebut akan menangguhkan batas utang hingga 1 Januari 2025, membatasi pengeluaran dalam anggaran 2024 dan 2025, dan menarik kembali dana covid-19 yang tidak terpakai.

Kesepakatan juga mempercepat proses perizinan untuk beberapa proyek energi dan memasukkan persyaratan kerja tambahan untuk program bantuan pangan bagi orang Amerika Serikat (AS) yang miskin. 

Selain itu, volatilitas pasar cenderung terbatas karena liburnya pasar AS memperingati memorial day

Nanang mengatakan, fokus selanjutnya bagaimana laporan data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Rupiah diperkirakan masih mempertahankan area psikologis pelemahan di Rp 15.000 per dolar AS.

"Pasca libur AS reaksi pasar akan terjadi di hari Selasa, dimana potensi penguatan saham dan pelemahan dolar bisa terjadi," ungkap Nanang kepada Kontan.co.id, Senin (29/5).

Nanang menambahkan, pasar pun akan mencermati data terbaru dari AS yakni tingkat kepercayaan konsumen yang diperkirakan mengalami penurunan dari 101.3 ke 99.0. Sementara, faktor internal masuknya dana asing masih menjadi penggerak utama rupiah bisa bertahan belakangan ini dari tekanan dolar.

Reny melihat, pelaku pasar akan wait and see pada pekan ini terhadap perkembangan indikator tenaga kerja AS dan realisasi inflasi Uni Eropa.

Baca Juga: Lesu, Rupiah Spot Ditutup Melemah ke Rp 14.972 Per Dolar AS Pada Hari Ini (29/5)

Tingkat pengangguran AS diperkirakan sebesar 3,5% pada Mei 2023 dari 3,4% pada April 2023 dan data nonfarm payrolls (NFP) AS diprediksi meningkat sebesar 180 ribu.

Sementara itu, rilis data-data domestik yang membaik belum cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah. Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) surplus pada kuartal I-2023.

Suku bunga Bank Indonesia juga tetap dipertahankan sebesar 5,75%. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar dan konsisten dengan stance kebijakan moneter dari Bank Sentral untuk memastikan inflasi dan inflasi inti terkendali.

Reny memperkirakan USD/IDR akan bergerak ke kisaran Rp 14.915 per dolar AS - Rp 15.058 per dolar AS. Sedangkan, Nanang memproyeksikan rupiah berpotensi akan bergerak pada rentang harga Rp 14.930 per dolar AS - Rp 15.020 per dolar AS di Selasa (30/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi