Rupiah Melemah, Indonesia Punya Peluang Gaet Lebih Banyak Wisman Tapi Ada Syaratnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat menjadi peluang bagi industri pariwisata Tanah Air untuk menarik lebih banyak wisatawan asing atau mancanegara (wisman). Namun, peluang tersebut dinilai perlu didukung harga yang kompetitif agar Indonesia mampu bersaing.

Pakar Pariwisata sekaligus mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Sapta Nirwandar mengatakan, harga barang dan jasa domestik yang kini lebih murah memang dapat merangsang wisman untuk berkunjung.

Belum lagi, konflik Timur Tengah saat ini menahan wisman untuk berkunjung ke tujuan wisata di wilayah tersebut seperti Dubai, Uni Emirat Arab (UAE) dan Qatar, sehingga wisman dinilai berpotensi memilih destinasi alternatif. Menurut Sapta, musim panas yang akan datang juga menjadi angin segar bagi tujuan wisata Indonesia.


Baca Juga: Pelemahan Rupiah Belum Dongkrak Kunjungan Wisatawan Asing, Ini Kata Asita

"Pada Juli–Agustus, Eropa juga memasuki musim panas yang mana masyarakat di sana banyak yang libur kerja maupun sekolah. Itu mestinya memberikan peluang bagi Indonesia," ujarnya saat dihubungi Kontan, Jumat (29/5/2026).

Akan tetapi, ia menilai dampaknya bisa jadi terbatas jika peluang ini tak dibarengi dengan harga yang kompetitif, baik dari tiket transportasi, akomodasi, dan lainnya. Sapta menilai pemerintah perlu melihat hal ini sebagai peluang dengan memberikan subsidi untuk harga tiket agar harga jauh lebih kompetitif dibanding negara lain di kawasan ASEAN.

Pasalnya, meski di tengah pelemahan rupiah, Sapta mengingatkan industri pariwisata Tanah Air masih perlu bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang kunjungan wismannya dinilai masih lebih tinggi.

"Kalau ada subsidi tentu lebih baik. Jangan sampai kita justru ikut menaikkan harga seperti yang sering terjadi di beberapa destinasi wisata," imbuhnya.

Menurut Sapta, pengurangan biaya tertentu atau pemberian insentif mungkin dinilai berat, khususnya di tengah kenaikan harga avtur saat ini. Namun di lain sisi, lanjutnya, akan ada pemasukan bagi negara dari sektor UMKM, restoran, penginapan, transportasi, dan sebagainya.

Memang, Sapta menambahkan, ia melihat saat ini sektor perhotelan lebih memiliki ruang gerak untuk efisiensi dibandingkan maskapai yang sangat bergantung pada harga bahan bakar.

"Hotel masih bisa melakukan berbagai penyesuaian agar tetap memberikan kenyamanan dengan harga yang baik. Misalnya dari makanan hotel porsinya dikurangi, dan lain-lain," ujarnya.

Baca Juga: Mebiso App Dorong Perlindungan Merek UMKM melalui Platform Digital

Secara keseluruhan, Sapta memandang diperlukan siasat lebih untuk menarik wisman di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik.

"Yang penting wisatawan datang terlebih dahulu. Setelah datang, mereka akan berbelanja dan memberikan dampak positif bagi perekonomian. Daripada tidak memberikan insentif sama sekali sehingga wisatawan memilih destinasi lain," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News