Rupiah Melemah, Industri Konstruksi Masuk Fase Kritis Akibat Harga Material Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberikan tekanan serius terhadap industri konstruksi nasional. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) bahkan menilai kondisinya sudah berada pada level masif dan kritis, seiring lonjakan harga material yang terus menggerus keuntungan kontraktor.

Wakil Sekjen III BPP Gapensi, Errika Ferdinata mengatakan, secara umum margin laba di industri konstruksi pada sudah cukup tipis.

"Dengan eskalasi harga material saat ini, margin kontraktor yang tadinya berada di kisaran 10% kini terus tergerus turun, bahkan sampai merugi," jelasnya kepada Kontan, Minggu (12/7/2026).


Baca Juga: Garuda Indonesia Terapkan Aturan Bagasi Berdasarkan Jumlah Koper Mulai 1 September

Hal ini dipicu oleh kenaikan harga material dasar yang memakan porsi pembiayaan yang jauh melampaui estimasi awal di Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Errika menyoroti kondisi ini akan lebih berat dirasakan oleh kontraktor kecil dengan modal yang terbatas. Pasalnya, keterbatasan dana membuat mereka sangat kesulitan untuk melakukan pembelian material di awal proyek (front-loading). 

"Apalagi di tengah fluktuasi harga saat ini, banyak supplier yang memperketat aturan dan menuntut pembayaran secara tunai atau langsung, sehingga arus kas kontraktor kecil semakin terjepit," tegasnya.

Saat ini, Gapensi mencermati para kontraktor juga telah melakukan pengajuan penyesuaian nilai kontrak (price adjustment) yang dinilai sebagai langkah krusial di tengah fluktuasi nilai tukar.

Pada proyek pemerintah atau BUMN, Errika bilang kontraktor secara aktif berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memberlakukan klausul eskalasi, terutama pada proyek-proyek multi-years yang nilai keekonomiannya sudah tak relevan dengan harga material saat ini.

Sementara pada proyek swasta, lanjut Errika, terjadi tren negosiasi ulang yang cukup alot antara kontraktor dan owner.

"Kontraktor kini jauh lebih berhati-hati dan mulai menolak kontrak lump sum untuk proyek berdurasi panjang, serta lebih memilih skema unit price atau mewajibkan adanya klausul batas fluktuasi kurs dalam kontrak baru," jelasnya.

Baca Juga: Estimasi Sumber Daya Mineral Proyek Tembaga-Emas Gua Macan MDKA Capai 276 Juta Ton

Untuk bertahan dalam kondisi ini, Gapensi menegaskan bahwa pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional untuk menjaga kinerja. Para kontraktor dinilai perlu melakukan sejumlah strategi.

Pertama, negosiasi termin pembayaran proyek yang fleksibel. Kontraktor perlu proaktif menegosiasikan skema termin pembayaran (progress payment) dengan pemilik proyek (owner). "Alih-alih menggunakan jarak milestone yang panjang, termin bisa dibuat lebih rapat agar cash flow proyek tetap sehat dan dana bisa segera diputar untuk operasional lanjutan," ujar Errika.

Kedua, kolaborasi dengan lembaga pembiayaan. Gapensi menilai menjalin kerja sama strategis dengan pihak perbankan atau lembaga pembiayaan seperti skema invoice financing atau B2B paylater cukup esensial untuk memberikan fleksibilitas termin pembayaran saat membeli material dari supplier. Sehingga, napas likuiditas dapat terselamatkan, terutama bagi kontraktor skala kecil dan menengah.

Ketiga, optimalisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) melalui value engineering. Gapensi mencermati kontraktor perlu menganalisis ulang desain (rekayasa nilai) untuk mengganti material impor dengan material substitusi buatan dalam negeri yang memiliki TKDN tinggi, tapi dengan kualitas yang setara.

Keempat, melakukan front-loading pembelian. Menurut Errika, mengunci (locking) harga material dari pemasok pada awal proyek dinilai penting guna meminimalisir risiko eskalasi harga di bulan-bulan berikutnya.

Baca Juga: Posisi Kas Tak Memadai, Pos Indonesia Tunda Bayar Imbal Hasil Sukuk Rp 24,12 Miliar

Terakhir, presisi dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi Building Information Modeling (BIM) sejak fase desain. "Dengan perhitungan kebutuhan material yang 100% presisi, kontraktor dapat menekan waste, atau pemborosan material akibat sisa potong  maupun salah desain di lapangan, hingga nyaris nol," tandas Errika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News