Rupiah melemah karena tingginya impor



JAKARTA. Rupiah cenderung melemah beberapa hari belakangan. Pada posisi hari ini, kurs tengah rupiah terhadap dollar berada di posisi Rp 10.262. Selain karena dampak Quantitative Easing, hal ini juga merupakan dampak dari tingginya posisi impor Indonesia. "Indonesia itu lebih besar pasak daripada tiang. Impor lebih besar daripada ekspor. Ini mengkhawatirkan, karena Bank Indonesia (BI) sulit bergerak sendirian," aku Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi A. Johansyah, pada Diskusi Publik Analisis Kenaikan Harga Pangan dan Pengendalian Inflasi, Rabu, (24/7). Di Indonesia, beberapa komoditas seperti cabai tak memiliki subsitusi. Meski harganya meningkat, masyarakat masih tetap mengejar cabai. Difi membandingkan dengan negara lain yang bila harganya naik, masyarakat pindah ke komoditas yang lain. Sedangkan di Indonesia, masyarakat kita tidak bisa mengganti suatu makanan dengan yang lain. Ia menyadari pelemahan rupiah terjadi sejak adanya defisit neraca pembayaran. Pasalnya, setiap tahun porsi impor yang masuk tercatat semakin membesar. Ekonom Universitas Gadjah Mada, Denni Puspa Purbasari menyatakan bahwa tingginya impor adalah karena Indonesia cenderung tak produktif dalam menggenjot industri pangan. Indeks produksi pangan dari tahun 1980 hingga 2011 cuma tumbuh 3,8%. Menurut data Comtrade dan Badan Pusat Statistik (BPS), 95,9% bawang putih di Indonesia masih impor. Kedelai impor pun mencapai 69,5%. Porsi gula pasir impor hingga 54%. Lalu daging sapi impor memegang porsi 20%. Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika menyebut bahwa peran Badan Urusan Logistik (Bulog) semakin kecil. Dulu, terdapat 9 komoditas yang Bulog urus. Namun kini yang Bulog tangani tinggal beras saja. "Jika kita mau genjot produksi, saya setuju. Setiap kebijakan harus dikalkulasi," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Barratut Taqiyyah Rafie