KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Senin (6/4/2026), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,32% ke level Rp 17.035 per dolar AS. Level rupiah saat ini dinilai mulai mencerminkan titik keseimbangan baru di tengah tekanan faktor global dan domestik yang belum mereda. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyebut, pelemahan rupiah level tersebut dipengaruhi kondisi neraca eksternal Indonesia yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Baca Juga: Tekanan Global Picu Rupiah Melemah dan Cadangan Devisa RI Menyusut Defisit transaksi berjalan Indonesia yang belum membaik, ditambah minimnya sentimen positif pada arus modal menjadi penekan utama rupiah. “Current account yang tidak membaik ditambah capital account yang juga belum ada sentimen positif,” ujar Budi kepada Kontan, Senin (6/4/2026). Dari sisi domestik, tekanan datang dari meningkatnya beban subsidi energi serta inflasi yang relatif tinggi.
Permintaan Dolar Tinggi
Senada, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memproyeksikan pergerakan rupiah pada kuartal II-2026 akan tetap menantang. Hal ini seiring adanya potensi arus keluar dana asing (hot money outflow) di pasar saham maupun surat utang negara (SUN). Di sisi lain, permintaan dolar AS domestik juga meningkat, terutama untuk kebutuhan impor bahan bakar minyak (BBM) seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Selain itu, periode April hingga Juli juga identik dengan tingginya kebutuhan pembayaran dividen dan kewajiban utang luar negeri, yang semakin menekan rupiah. “Kondisi risk averse investor global akibat perkembangan eksternal yang kurang kondusif membuat pergerakan rupiah semakin challenging,” kata Myrdal.
Baca Juga: Tembus Rp 17.000, Rupiah Bisa Jatuh ke Level Berapa Lagi? Myrdal menambahkan, pelemahan rupiah berisiko mendorong kenaikan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, tekanan juga berpotensi menjalar ke inflasi melalui kenaikan harga barang impor, termasuk energi. Kondisi ini dapat meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menjaga stabilitas harga, sekaligus membuka peluang penyesuaian kebijakan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) jika tekanan inflasi meningkat. Dari sisi kebijakan, Myrdal menilai Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas rupiah, mulai dari intervensi di pasar valas, operasi moneter melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga kebijakan makroprudensial. BI juga memperketat ketentuan transaksi valas dengan menurunkan ambang batas kebutuhan underlying transaksi serta meningkatkan limit transaksi lindung nilai (hedging) seperti forward dan swap.
Selain itu, intervensi dilakukan di berbagai instrumen, termasuk pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar surat berharga negara. “Langkah BI sudah cukup all out. Tinggal bagaimana fundamental ekonomi domestik tetap terjaga agar bisa menopang stabilitas rupiah ke depan,” ujar Myrdal.
Baca Juga: BI Luncurkan Instrumen Repo Valas, Perkuat Likuiditas dan Stabilitas Rupiah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News