KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026). Rupiah melemah ke level terendah sejak akhir Juli 2026, di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang Asia dan kekhawatiran investor terhadap pasar saham Indonesia. Mengutip
Reuters, rupiah melemah 0,41% ke level Rp18.115 per dolar AS. Sepanjang tahun ini, rupiah telah kehilangan sekitar 8% terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika investor masih mencermati peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari
emerging market menjadi
standalone market. Baca Juga: Bursa Asia Menguat Rabu (21/10), Investor Cermati Kinerja Emiten dan Keputusan BI Pada Senin, otoritas Indonesia juga mengumumkan sejumlah langkah untuk mengatasi manipulasi pasar saham, menyusul kekhawatiran mengenai praktik transaksi terkoordinasi. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) sempat turun lebih dari 1% pada awal perdagangan sebelum memangkas pelemahan menjadi sekitar 0,8%. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun naik menjadi 7,47%, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Tekanan meluas di Asia
Pelemahan rupiah sejalan dengan tekanan yang melanda sejumlah mata uang negara berkembang Asia. Indeks mata uang negara berkembang global yang dihitung MSCI turun 0,2% pada Senin. Peso Filipina bahkan menyentuh rekor terendah di level 63,865 per dolar AS. Analis HSBC menilai pelemahan peso berkaitan dengan defisit transaksi berjalan Filipina yang berkepanjangan, rendahnya investasi langsung asing, serta menyusutnya cadangan devisa.
Baca Juga: Arah Kebijakan BI dan Yield AS Jadi Penopang Pergerakan Rupiah Hari Ini (21/10) Di pasar saham, indeks Korea Selatan turun 0,5% menjelang rilis laporan keuangan produsen cip SK Hynix dan Samsung Electronics pada pekan ini. Investor juga menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat, termasuk Alphabet dan Microsoft, untuk memperoleh petunjuk mengenai besarnya belanja terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI). Saham Filipina melemah 0,9%, sedangkan bursa Singapura turun 0,4%. Sebaliknya, indeks saham Thailand naik tipis 0,3% menjelang keputusan suku bunga bank sentral negara tersebut pada Rabu (28/10/2026). Pasar memperkirakan suku bunga Thailand akan dipertahankan untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Selain perkembangan pasar domestik, investor mencermati serangkaian keputusan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia pada pekan ini. Pasar memperkirakan Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), Bank of Japan, dan Bank Sentral Eropa akan mempertahankan suku bunga. Di luar Asia, perhatian investor juga tertuju pada Brasil setelah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden dengan perolehan 51,8% suara sah.
Baca Juga: Rupiah Menguat Terbatas, Simak Proyeksi untuk Rabu (21/10) Kemenangan Lula menjadi tantangan bagi reli aset Brasil yang sebelumnya didorong ekspektasi terhadap pemerintahan yang lebih ramah pasar di bawah kandidat sayap kanan Flavio Bolsonaro.
Analis UBS menyebut kemenangan Lula tersebut menantang reli aset Brasil yang terbentuk setelah kemenangan Bolsonaro pada putaran pertama pemilihan. Pada perdagangan terakhir yang tercatat, mata uang real Brasil telah menguat 6,4% sepanjang tahun ini, sementara indeks saham Bovespa naik 8,4%. Perkembangan politik Brasil dan arah kebijakan moneter global menjadi faktor tambahan yang dicermati investor di tengah tekanan terhadap mata uang dan pasar saham negara berkembang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News