Rupiah Melemah ke Rp 17.104 per Dolar AS Hari Ini, Terseret Eskalasi di Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif dalam sepekan. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 0,08% secara harian ke level Rp 17.104 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,73% dari posisinya di level Rp 16.980 per dolar AS pada Jumat (3/4/2026). 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,17% secara harian ke level Rp 17.112 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,57% dari posisinya di Rp 17.015 per dolar AS pada Kamis (2/4/2026).

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan faktor domestik. Investor fokus pada perkembangan eskalasi di Timur Tengah. Investor pada awal pekan mencermati tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump memperingatkan bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa pukul 8 malam waktu AS. 


Baca Juga: IHSG Menguat 2,07% ke 7.458 pada Jumat (10/4/2026), EMTK, UNTR, BBCA Top Gainers LQ45

Sebab, gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.

Upaya diplomatik untuk meredakan konflik juga tampaknya goyah. Iran menolak proposal AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap. Bersamaan dengan negosiasi yang lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi.

Iran menolak proposal tersebut, dan menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan.

Namun secara tak terduga AS - Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan. 

"Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar," ujar Ibrahim, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: Tambah Free Float, Prajogo Pangestu Kembali Jual Saham Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)

Pasca pengumuman tersebut, nilai tukar rupiah terpantau sempat menguat, sebelum akhirnya sentimen pasar terganggu oleh serangan Israel ke Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata. 

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ruang fiskal pemerintah semakin terbatas untuk meredam gejolak harga minyak dampak eskalasi. Kenaikan harga energi berisiko memperlebar defisit jika tidak diimbangi langkah efisiensi.

Sebab, Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 sudah mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp 99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB. 

Defisit anggaran berasal dari belanja total Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4% secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp 620,3 triliun. 

Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp 574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% dari Maret tahun lalu yakni Rp 404,7 triliun. 

Baca Juga: Rupiah Jisdor Melemah 0,17% ke Rp 17.112 per Dolar AS pada Jumat (10/4/2026)

Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68% terhadap PDB.

Ibrahim juga mengingatkan bahwa penyesuaian harga BBM berpotensi semakin membuat daya beli masyarakat semakin melemah.

Sebab itu, pemerintah didorong melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran. 

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa memperkirakan pergerakan rupiah sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh rangkaian data inflasi AS, khususnya data Consumer Price Index (CPI) sebagai pemicu awal serta Core Producer Price Index (PPI) sebagai konfirmasi lanjutan arah tekanan harga. 

"Kedua indikator ini akan membentuk ekspektasi kebijakan The Fed yang cenderung ketat lebih lama," ujar Amru.

Selain itu, dinamika geopolitik global dan pergerakan harga energi juga menjadi faktor penting yang dapat memicu perubahan sentimen pasar dan volatilitas rupiah.

Amru memproyeksikan rupiah sepekan ke depan bergerak dalam kisaran Rp 17.100 – Rp 17.150 per dolar AS. Tekanan utama berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi AS yang memperkuat Dolar AS, sehingga menjaga tekanan pada mata uang rupiah.

Sementara Ibrahim memperkirakan rupiah sepekan ke depan di kisaran Rp 17.040 - Rp 17.200 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News