Rupiah Melemah ke Rp 17.762 per Dolar AS, Pasar Cermati The Fed dan RDG BI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.762 per dolar AS, melemah 0,21% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 17.725 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga melemah 0,19% menjadi Rp 17.753 per dolar AS dari posisi sehari sebelumnya Rp 17.719 per dolar AS.


Baca Juga: Jika The Fed dan BI Tahan Suku Bunga, Yield SBN Bisa Turun Lagi

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari eksternal, pelaku pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah muncul optimisme mengenai perpanjangan gencatan senjata sementara guna membuka ruang bagi negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi. Pasar menilai proses normalisasi produksi dan distribusi energi di kawasan tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat sehingga risiko terhadap pasokan energi global tetap menjadi perhatian.

Selain itu, fokus investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan.

"Pasar masih menunggu petunjuk terkait peluang penurunan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini," ujar Ibrahim, Rabu (17/6/2026).

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.762 Per Dolar AS Hari Ini (17/6), Asia Terkoreksi

Menurut Ibrahim, RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa waktu terakhir mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga menjadi 5,50% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Di sisi lain, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi risiko gangguan pasokan energi global karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dan tidak lagi bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah tetap mempertimbangkan faktor harga dalam menentukan sumber impor energi guna menjaga efisiensi dan mengurangi beban fiskal.

Untuk perdagangan Kamis (18/6), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 17.760-Rp 17.800 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News