Rupiah Melemah ke Rp 17.763 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Konflik AS-Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (2/9/2026), terutama datang dari sentimen eksternal, di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong permintaan dolar AS sebagai aset safe haven.

Melansir Bloomberg, Rabu (2/9) rupiah spot ditutup di level Rp 17.763 per dolar AS, melemah 0,11% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.744 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.770 per dolar AS atau melemah 0,24% secara harian.


Baca Juga: Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan, eskalasi terbaru konflik AS-Iran kembali meningkatkan permintaan dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga minyak mentah global.

“Brent sudah berada sekitar US$ 95 per barel dan WTI sekitar US$ 90. Kenaikan minyak menjadi sentimen negatif ganda bagi rupiah,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor.

Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga meningkatkan risiko inflasi di AS. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Brahmantya menyebut, pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 68%. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun telah naik ke sekitar 4,81% dan indeks dolar AS (DXY) mendekati level 99,8.

Baca Juga: Pasokan Terancam, Harga Minyak Brent Diproyeksi Melesat ke US$ 125

"Jadi saat ini ada tarik-menarik antara tekanan global yang cukup kuat dengan stabilisasi BI dari domestik," jelasnya.

Dari dalam negeri, rupiah masih memperoleh bantalan dari kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75%. Selain itu, intervensi BI melalui pasar non-deliverable forward (NDF), spot, dan domestic non-deliverable forward (DNDF) dinilai membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak terlalu agresif.

Untuk perdagangan Kamis (3/9/2026), Brahmantya memperkirakan rupiah masih bergerak sideways dengan bias melemah. Selama DXY bertahan mendekati level 100, yield US Treasury masih tinggi, dan harga Brent berada di atas US$90 per barel, ruang penguatan rupiah dinilai relatif terbatas.

"Apalagi perkembangan konflik AS-Iran masih sangat cepat dan dapat kembali meningkatkan risk-off," katanya.

Meski demikian, Brahmantya tidak melihat pelemahan rupiah akan langsung terlalu dalam. Pasalnya, BI masih aktif menjaga stabilitas nilai tukar sehingga skenario utama yang diperkirakan adalah pelemahan secara terbatas, bukan depresiasi tajam.

Dengan demikian, ia memperkirakan rupiah pada Kamis (3/9/2026) akan bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News