KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada awal pekan ini. Sentimen eksternal dan domestik yang kurang kondusif menjadi faktor utama pelemahan mata uang Garuda. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.995 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (6/7/2026). Ini membuat rupiah melemah 0,18% dibanding penutupan Jumat (3/7/2026) ke Rp 17.963 per dolar AS. Sepanjang hari, pelemahan rupiah bahkan sempat tembus ke atas Rp 18.000 per dolar AS. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah.
“Indeks dolar AS menguat didorong meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditutup ke Rp 17.995 Per Dolar AS Hari Ini (6/7), Sempat Tembus Rp 18.000 Dari sisi eksternal, konflik geopolitik kembali memanas setelah serangan rudal dan drone Rusia ke ibu kota Ukraina, Kyiv. Ketegangan ini terjadi menjelang pertemuan puncak NATO, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar global. Selain itu, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait keamanan jalur Selat Hormuz, juga turut menjaga volatilitas pasar. Pernyataan yang saling bertentangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pengelolaan jalur strategis tersebut menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar. Di sisi lain, data ekonomi AS juga memberikan sentimen campuran. Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi sempat menekan dolar AS. Namun, ekspektasi bahwa Federal Reserve tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi menahan pelemahan dolar lebih lanjut. “Ketidakpastian arah kebijakan The Fed masih tinggi, sehingga membatasi pelemahan dolar AS,” jelasnya. Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari laporan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menyoroti meningkatnya kerentanan ekonomi Indonesia. Pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar menjadi perhatian utama. Fitch juga menilai kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi mulai menurun. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan membuka risiko penurunan peringkat utang Indonesia, yang saat ini berada di level BBB dengan outlook negatif. Selain itu, pasar turut merespons negatif data neraca perdagangan Indonesia yang kembali defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,69% ke 5.916 pada Senin (6/7/2026), AKRA, BBRI, BUMI Top Gainers LQ45 Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar. Langkah stabilisasi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. “Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan,” tambah Ibrahim. Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pada perdagangan Selasa (7/7/2026), rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News