KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Won Korea Selatan dan baht Thailand termasuk mata uang yang mencatat pelemahan cukup besar, sementara rupiah juga berada di zona merah. Mengutip data
Reuters pada pukul 02.05 GMT atau 09.05 WIB, won Korea Selatan melemah 0,29% ke level 1.360,60 per dolar AS dari posisi sebelumnya 1.356,66.
Baca Juga: IHSG Memerah di Awal Oktober, Turun 0,13% ke 6.063,4 di Awal Perdagangan Baht Thailand turun 0,27% menjadi 33,663 per dolar AS dari 33,57. Sementara itu, dolar Taiwan melemah 0,19% ke 31,912 dan dolar Singapura turun 0,13% menjadi 1,279 per dolar AS. Rupiah juga melemah 0,22% menjadi Rp17.910 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.870. Yen Jepang mencatat pelemahan lebih dalam, yakni 0,49% menjadi 158,16 per dolar AS dari 157,39. Peso Filipina turun 0,15% menjadi 62,703. Sementara itu, rupee India relatif stagnan di level 95,83 per dolar AS. Yuan China justru menguat tipis 0,02% menjadi 6,705 per dolar AS dari 6,7065.
Baca Juga: Saham Semacom (SEMA) Anjlok 12%, Manajemen Beri Batasan Kontrak Data Center Rupiah Melemah 6,11% Sepanjang 2026 Jika dilihat sepanjang tahun berjalan, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat pelemahan cukup besar terhadap dolar AS. Posisi rupiah pada awal 2026 berada di level Rp16.670 per dolar AS. Dengan posisi saat ini di Rp17.910, rupiah telah melemah sekitar 6,11%. Rupee India juga tertekan 5,81% sepanjang 2026, sedangkan peso Filipina melemah 4,79%. Baht Thailand tercatat turun 4,13%, sementara yuan China melemah 3,97% terhadap dolar AS.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (1/10): Turun Rp 14.000 Jadi Rp 2.581.000 Per Gram Won Korea Selatan justru masih mencatat penguatan 4,39% sepanjang tahun berjalan. Dolar Singapura menguat 1,16%, sedangkan ringgit Malaysia naik 0,75%.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang melemah sepanjang 2026, yakni 1,70%. Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah penguatan dolar AS yang masih mendapat dukungan dari tingginya yield US Treasury. Investor juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral global serta perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News