Rupiah Melemah Meski Terjadi Surplus Kembar di 2022, Ini Penyebabnya Menurut Ekonom



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi eksternal mencatatkan surplus kembar pada tahun 2022, yaitu surplus Neraca Pembayaran Indonesia (BI) juga surplus Neraca Transaksi Berjalan. 

Bank Indonesia (BI) mencatat, surplus NPI pada sepanjang tahun lalu sebesar US$ 4,0 miliar dan surplus Neraca Transaksi Berjalan surplus US$ 13,2 miliar atau setara 1,0% produk domestik bruto (PDB). 

Meski terdapat surplus kembar, rupanya ini tak bisa membawa nilai tukar rupiah untuk menguat pada tahun 2022. 


Baca Juga: Berotot, Rupiah Spot Ditutup Menguat ke Rp 15.159 Per Dolar AS Pada Hari Ini (20/2)

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, alasan rupiah tak berotot pada tahun lalu karena kondisi eksternal. 

"Ini karena sentimen dari eksternal. Nilai tukar berbagai negara berkembang juga melemah karena tensi global," ujar David kepada Kontan.co.id, Senin (20/2). 

David juga mengingatkan, pergerakan rupiah juga erat kaitannya dengan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan dalam negeri. 

Sedangkan pada tahun 2022, pasar keuangan dalam negeri turut kena gonjang-ganjing global. Ini juga tercermin dari transaksi modal dan finansial tahun 2022 yang defisit US$ 8,9 miliar. 

Selain itu, likuiditas valas dalam negeri pada tahun 2022 juga tak sebasah itu. Terlebih, di tengah durian runtuh ekspor karena peningkatan harga komoditas, devisa hasil ekspor (DHE) tak sepenuhnya masuk ke dalam negeri. 

Baca Juga: Melesat, Rupiah Jisdor Menguat ke Rp 15.168 Per Dolar AS Pada Senin (20/2)

Meski begitu, David melihat prospek yang lebih cerah untuk pergerakan rupiah di tahun 2023. 

Menurut perhitungannya, rupiah berpotensi menguat. Setidaknya pada awal tahun 2023 rupiah bergerak di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 15.300 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi