KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru mengerek permintaan apartemen di Jakarta. Ini karena sebagian besar penyewa merupakan ekspatriat yang menerima tunjangan tempat tinggal dalam denominasi dolar AS.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan tingkat hunian apartemen servis di Jakarta mencapai 61% pada kuartal III-2026. Angka tersebut naik sekitar 1,6% secara kuartalan. Sementara itu, tarif sewa apartemen servis relatif stabil di kisaran Rp 457.000 per meter persegi (m²) per bulan. Menurut Ferry, pelemahan rupiah justru meningkatkan daya beli ekspatriat dalam rupiah karena anggaran tempat tinggal mereka tetap berbasis dolar AS.
Baca Juga: Pasokan Nikel Smelter Terverifikasi 320 Juta Ton, ESDM Evaluasi Kinerja Produksi "Ketika rupiah melemah, dengan tenggat anggaran dolar yang sama, mereka sebenarnya memiliki daya beli dalam rupiah yang lebih besar," ujar Ferry, Rabu (7/10/2026). Namun, tambahan daya beli tersebut tidak serta-merta mendorong penyewa menekan tarif sewa. Sebaliknya, ekspatriat cenderung meningkatkan kualitas hunian yang ditempati. Penyewa dapat berpindah ke unit yang lebih luas, naik ke kelas unit yang lebih tinggi, maupun menggunakan ruang negosiasi untuk memperoleh fasilitas tambahan dari pengelola. Dari sisi pasokan, belum terdapat tambahan unit apartemen servis baru pada kuartal III/2026. Kondisi ini membuat persaingan antaroperator relatif terbatas sehingga pengelola masih memiliki ruang untuk menjaga tarif sewa.
KPR Makin Dominan
Di segmen apartemen untuk pembelian, skema pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) semakin banyak digunakan konsumen. Data Colliers per 7 Oktober 2026 menunjukkan porsi transaksi pembelian apartemen menggunakan KPR mencapai 47%, naik sekitar 4% secara kuartalan. Sementara itu, transaksi secara tunai mencapai 29% dan cicilan tunai 24%. "Angka 47% transaksi menggunakan KPR, jadi naik sekitar 4% quarter on quarter, sementara pembelian tunai itu ada sekitar 29% dan cicilan tunai sekitar 24%," kata Ferry.
Baca Juga: Akuisisi Bisnis Udang Sumber Mas (SMKM) Molor, Target Rampung Kuartal I-2027 Menurut Ferry, tren tersebut menunjukkan bahwa keterjangkauan apartemen tidak hanya ditentukan oleh harga per meter persegi. Konsumen semakin memperhitungkan kebutuhan dana awal serta kemampuan membayar cicilan setiap bulan. "Jadi bagi konsumen yang jauh lebih terasa justru berapa down payment yang mereka harus siapkan, kemudian berapa cicilan setiap bulannya dan berapa bunga KPR-nya," ujarnya.
Selain uang muka, biaya transaksi awal dan pilihan bank yang bekerja sama dengan pengembang juga menjadi pertimbangan. Pasalnya, tingkat bunga kredit atau lending rate dapat berbeda antarbank. Ferry menilai skema pembiayaan kini semakin menjadi bagian dari produk apartemen. Pengembang dapat menggandeng perbankan untuk menawarkan struktur KPR yang lebih menarik dan menekan kebutuhan dana awal calon pembeli. "Jadi developer bisa bekerja sama dengan bank untuk menawarkan struktur KPR yang lebih menarik, menekankan kebutuhan cash di awal dan membuat KPR yang lebih terkelola gitu ya," ujar Ferry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News