Rupiah melemah, sebaiknya investor wait and see



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah kembali menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejumlah saham yang memiliki margin impor besar turut tertekan. Pelemahan rupiah ini bahkan sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut sebelumnya. 

Mengutip Bloomberg pukul 12.45 WIB, rupiah melemah 0,19% ke level Rp 13.975 per dollar Amerika Serikat (AS) atau menyamai level terendahnya bulan April lalu.

Sektor emiten yang terpapar efek negatif diantaranya seperti farmasi. Sektor itu masih banyak mengandalkan bahan baku yang berasal dari luar negeri. Hampir lebih dari 90% bahan baku didatangkan dari luar Indonesia. Otomatis, barang impor termasuk klasifikasi produk yang terkena efek negatif penguatan dollar AS.


Bertoni Rio, Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia mengungkapkan strategi investor saat ini lebih tepat wait and see terlebih dahulu. Apresiasi dollar AS berpeluang membebani perdagangan pasar mulai dari real, utang, modal. Hal itu muncul akibat dari selisih kurs.

Menurutnya, selama apresiasi dollar AS masih terus berlanjut di atas level fundamental Rp 13.500 per dollar AS, maka pelemahan rupiah bisa membebani IHSG dan mengakibatkan kelanjutan koreksi. “Penguatan dollar AS selalu membebani para pengusaha. Selain itu, pelemahan dollar AS pun meningkatkan risiko investasi,” ujar Bertoni kepada Kontan.co.id, Kamis (3/5).

Peningkatan risiko pasar searah dengan risiko pada emiten. Diantaranya seperti KLBF dan KAEF. Dia melihat, secara teknikal KAEF telah menembus level support potensi uji ke support selanjutnya level 1.960 dan KLBF support selanjutnya 1.420. “Sebaiknya wait and see hingga ada sinyal positif untuk penguatan rupiah, dan meredahnya aksi jual investor asing,” lanjutnya.

Bernadus Karmen Winata, Direktur dan Corporate Secretary PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menilai kondisi pelemahan rupiah karena faktor global akan membawa dampak negatif terhadap profitabilitas perusahaan. KLBF mengupayakan pengelolaan margin melalui strategi bauran produk serta efisiensi biaya produksi dan pemasaran. “Kami mengharapkan agar nilai tukar rupiah kembali stabil sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat,” kata Bernadus kepada Kontan.co.id, Kamis (3/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi