Rupiah Melemah Selasa (18/8), Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026).

Tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan AS dan Iran.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,24% ke Rp17.842 Selasa (18/8) Pagi, Penguatan Dua Hari Terhenti


Mengutip Bloomberg, Selasa (18/8/2026) pukul 11.00 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,30% ke level Rp 17.852 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, Senin (17/8/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,16% secara harian ke level Rp 17.798 per dolar AS.

Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah terjadi seiring kembali menguatnya harga minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Iran sebelumnya mengancam akan mengubah postur militernya menjadi lebih ofensif setelah upaya diplomasi untuk mengakhiri perang dengan AS mengalami kebuntuan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global, terutama di tengah ketidakpastian aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat telah mencapai US$ 85,32 per barel.

“Penguatan harga minyak di atas US$ 83 per barel, membuat rupiah tersungkur pagi ini,” ujar Ibrahim, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga: Won dan Ringgit Menguat, Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Selasa (18/8)

Proyeksi Rupiah

Ibrahim memperkirakan, pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa akan berlangsung fluktuatif. Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 17.800 per dolar AS.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS.

Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran, arah harga minyak mentah dunia, serta sentimen terhadap dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News