KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 16.877 per dolar AS. Meski demikian, Purbaya meminta pelaku pasar dan masyarakat tidak panik karena fundamental ekonomi dinilai tetap kuat. Purbaya menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Baca Juga: Sempat Tertekan, Menkeu Purbaya Perkirakan Rupiah Menguat Dua Minggu ke Depan Pemerintah, kata dia, akan terus menunggu masukan dari bank sentral terkait langkah-langkah yang perlu ditempuh. "Kalau rupiah kan urusan bank sentral, satu-satunya tugas dia adalah menjaga stabilitas nilai tukar. Saya menunggu masukan dari bank sentral," ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Rabu (14/1/2026). Ia optimistis fondasi ekonomi Indonesia akan terus membaik ke depan, sehingga tidak ada alasan bagi pelaku pasar untuk khawatir terhadap rupiah. Menurutnya, arus modal asing juga mulai kembali masuk ke dalam negeri, tercermin dari pergerakan pasar modal. "Enggak ada alasan orang takut untuk
convert ke rupiah. Asing juga sudah masuk, Anda lihat pasar modal kita. Kalau dikendalikan dengan benar, tidak terlalu sulit untuk mengembalikan rupiah," katanya. Bahkan, Purbaya menyebut rupiah berpeluang kembali menguat dalam waktu relatif singkat. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Baca Juga: Siap-Siap, Menkeu Purbaya Berencana Tambah Layer Tarif Cukai Rokok pada 2026 "Teman-teman di pasar, ibu-ibu dan lain-lain, enggak usah panik. Rupiah akan segera menguat dalam waktu dua minggu ke depan," imbuh Purbaya. Terkait langkah stabilisasi BI melalui penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Purbaya mengingatkan perlunya kehati-hatian. Ia menilai SRBI tidak menjadi masalah selama instrumen tersebut benar-benar menyerap dana asing.
"Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya enggak apa-apa. Tapi kan banyak juga domestik yang masuk ke situ. Mesti dipertimbangkan itu mungkin," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News