KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih menjadi tantangan bagi PT Kalbe Farma Tbk (
KLBF) hingga akhir 2026. Meski berpotensi menekan margin laba akibat kenaikan biaya bahan baku impor, emiten farmasi ini dinilai masih memiliki daya tahan berkat kekuatan merek dan diversifikasi bisnis.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan pelemahan rupiah di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS berpotensi memicu margin compression pada tahun buku 2026. Namun, tekanan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung secara drastis. "Margin compression FY2026 kemungkinan terjadi, tetapi tidak dramatis karena API impor hanya sekitar 30%–40% dari cost of goods sold (COGS) dan rupiah Rp 17.900+ jadi headwind," ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (9/7/2026). Sementara itu, penyangga utamanya berasal dari pricing power pada produk branded generics serta diversifikasi segmen usaha. Ia menjelaskan, portofolio bisnis Kalbe yang tersebar di segmen farmasi, nutrisi, distribusi, hingga alat kesehatan membuat perusahaan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.
Baca Juga: Terima Dividen Rp 18 M, Lo Kheng Hong Kembali Borong Saham Ini Kondisi tersebut dinilai mampu meredam tekanan terhadap kinerja ketika salah satu lini usaha menghadapi tantangan. Dari sisi prospek, Wafi menilai masih terdapat sejumlah katalis yang dapat menopang kinerja KLBF hingga akhir tahun. Salah satunya adalah semakin luasnya penetrasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang berpotensi meningkatkan volume penjualan produk farmasi. Selain itu, tren premiumisasi pada segmen nutrisi juga dinilai masih berlanjut dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan. Meski demikian, Wafi mengingatkan investor untuk tetap mencermati sejumlah risiko yang berpotensi menekan kinerja KLBF. Menurutnya, persaingan produk private label di jaringan ritel farmasi modern semakin agresif sehingga dapat menggerus pangsa pasar. Di samping itu, terdapat potensi kebijakan wajib penggunaan e-katalog yang dapat menekan average selling price (ASP) pada segmen penjualan institusional. Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah potensi inventory overhang pada paruh kedua 2026 apabila terjadi penumpukan stok di jaringan distribusi selama semester pertama. Kendati demikian, Wafi menilai KLBF masih layak dikoleksi sebagai saham defensif. Hal itu didukung fundamental yang kuat, posisi neraca yang sehat, kebijakan pembagian dividen yang konsisten, serta kekuatan merek yang dinilai sulit ditiru oleh para pesaing.
"KLBF merupakan defensive quality play yang menarik untuk akumulasi bertahap. Saham ini lebih cocok bagi investor dengan horizon investasi 12–18 bulan dibandingkan trader jangka pendek," pungkasnya.
Berikut rekomendasi sejumlah analis terkait saham KLBF. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KLBF dengan target harga sebesar Rp 1.000 per saham. Sementara itu, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, masih mempertahankan rekomendasi buy untuk KLBF, tetapi target harganya diturunkan menjadi Rp 1.000 per saham. Adapun Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas, Alif Ihsanario, merekomendasikan hold untuk KLBF dengan target harga Rp 820 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News